JAKARTA, Cobisnis.com – Keluarga korban penembakan di Florida State University menggugat OpenAI. Mereka menuduh ChatGPT mendorong delusi pelaku sebelum serangan terjadi. Gugatan diajukan pada Minggu di Tallahassee.
Korban bernama Tiru Chabba tewas dalam penembakan pada April 2025. Polisi menuduh Phoenix Ikner menewaskan dua orang dan melukai enam lainnya. Menurut gugatan, Ikner mengirim ribuan pesan ke ChatGPT sebelum penembakan.
Keluarga korban menuduh chatbot membantu merencanakan logistik serangan. Selain itu, ChatGPT disebut menjawab pertanyaan tentang senjata, amunisi, dan waktu yang ramai di kampus.
Keluarga korban juga menilai sistem OpenAI gagal mencegah risiko yang dapat diperkirakan. Mereka menuntut ganti rugi dan meminta OpenAI menambahkan perlindungan yang lebih kuat.
Sementara itu, OpenAI menolak tuduhan tersebut. Juru bicara OpenAI, Drew Pusateri, menyatakan ChatGPT hanya memberikan informasi faktual yang tersedia secara luas di internet.
Menurut OpenAI, ChatGPT tidak mendorong atau mempromosikan tindakan ilegal maupun berbahaya. OpenAI mengatakan perusahaan terus memperkuat sistem untuk mendeteksi niat berbahaya dan merespons risiko keselamatan.













