JAKARTA, Cobisnis.com – Presiden Prabowo Subianto menggelar pertemuan empat mata dengan Ketua Dewan Ekonomi Nasional Luhut Binsar Pandjaitan di Istana Merdeka. Pertemuan ini membahas kondisi ekonomi Indonesia di tengah tekanan geopolitik global.
Dalam pertemuan tersebut, pemerintah menilai kondisi ekonomi nasional masih relatif stabil. Aktivitas ekonomi dan pertumbuhan dinilai tetap terjaga dalam beberapa bulan ke depan.
Luhut mengungkapkan hasil simulasi terbaru menunjukkan ekonomi Indonesia masih berada dalam jalur yang aman. Namun, pemerintah tetap menyiapkan langkah antisipasi jika situasi global memburuk.
Salah satu perhatian utama adalah potensi lonjakan harga energi. Tidak hanya harga minyak mentah, tetapi juga selisih harga dengan BBM yang semakin melebar.
Kondisi ini dinilai dapat berdampak langsung pada beban subsidi dan harga domestik. Jika tidak diantisipasi, tekanan terhadap ekonomi nasional bisa semakin besar.
Selain energi, pemerintah juga mencermati gangguan rantai pasok komoditas penting. Salah satunya adalah sulfur yang dibutuhkan untuk industri hilirisasi nikel dan baterai kendaraan listrik.
Meski ada berbagai tantangan, pemerintah memastikan kondisi APBN tetap terkendali. Defisit anggaran dijaga di bawah 3 persen melalui efisiensi belanja dan peningkatan penerimaan negara.
Tambahan pemasukan diharapkan datang dari sektor ekspor, terutama batu bara dan sawit. Kedua komoditas ini masih menjadi penopang utama dalam menjaga stabilitas fiskal.
Di sisi lain, pemerintah juga mendorong percepatan deregulasi untuk menjaga aktivitas dunia usaha. Langkah ini diharapkan dapat mempercepat perizinan dan meningkatkan kepastian bagi pelaku usaha.
Luhut juga menekankan pentingnya percepatan transformasi digital melalui pengembangan GovTech. Selain itu, pembangunan Indonesia Financial Center menjadi bagian dari strategi menarik arus modal global.
Pemerintah melihat kondisi global saat ini sebagai tantangan sekaligus peluang. Dengan strategi yang tepat, Indonesia dinilai bisa menjaga stabilitas sekaligus mempercepat pertumbuhan ekonomi.
Pertemuan ini menegaskan bahwa pemerintah tidak hanya fokus pada mitigasi risiko, tetapi juga memanfaatkan momentum untuk mendorong lompatan ekonomi ke depan.













