JAKARTA, Cobisnis.com – Pemerintahan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump disebut mempertimbangkan Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf sebagai calon pemimpin masa depan Iran. Beberapa pejabat Gedung Putih melihat Ghalibaf sebagai mitra potensial yang dapat diajak bernegosiasi untuk mengakhiri konflik di Timur Tengah.
Menurut laporan Politico dan Anadolu Agency, pejabat AS menyebut Ghalibaf adalah salah satu tokoh paling berpengaruh di Iran, meski Gedung Putih belum berkomitmen secara resmi pada satu orang. Trump menyebut perubahan rezim di Iran sudah dimulai, dan beberapa tokoh dipandang masuk akal untuk diajak bekerja sama.
Trump dilaporkan menekankan pentingnya strategi yang hati-hati, membandingkan pendekatan ini dengan perubahan kepemimpinan di Venezuela yang menguntungkan AS. Sementara itu, Mohammad Ghalibaf menegaskan belum ada negosiasi resmi dengan AS dan mengecam laporan media sebagai manipulasi informasi.
Situasi ini menyoroti ketegangan geopolitik di wilayah Timur Tengah dan dampaknya terhadap hubungan bilateral AS-Iran, termasuk potensi perjanjian energi. Meski laporan media menyebut Ghalibaf sebagai kandidat negosiasi, pihak Iran menegaskan status quo tetap berlaku.
Pejabat Gedung Putih menyatakan langkah ini merupakan bagian dari strategi yang lebih luas untuk mengakhiri permusuhan, menjaga stabilitas, dan menegosiasikan kesepakatan penting terkait sumber daya energi.
Ketidakpastian di Teheran dan respons diplomatik AS menunjukkan kompleksitas negosiasi lintas rezim dan kepentingan strategis di wilayah tersebut. Posisi Ghalibaf tetap penting karena dapat mempengaruhi arah perubahan politik dan ekonomi di Iran.
Trump menegaskan bahwa semua keputusan terkait perubahan kepemimpinan harus diambil dengan pertimbangan matang, menghindari langkah terburu-buru yang dapat memicu ketegangan baru.
Laporan ini juga menjadi sorotan pasar global karena potensi perubahan rezim dan negosiasi energi di Iran dapat mempengaruhi harga minyak dan stabilitas geopolitik.
Beberapa analis menilai keterlibatan Ghalibaf sebagai peluang strategis AS untuk menstabilkan hubungan dan meminimalkan risiko konflik terbuka, sambil tetap mengamankan kepentingan ekonomi dan energi AS.
Sementara itu, publik internasional dan media memantau perkembangan ini secara cermat, menunggu konfirmasi resmi dari pihak Iran dan AS.













