JAKARTA, Cobisnis.com – Inggris berencana memberikan akses teknologi rudal kepada Ukraina untuk mendukung produksi misil jelajah di negara tersebut. Langkah ini membuka peluang Ukraina memproduksi rudal SCALP atau Storm Shadow secara mandiri.
Inggris dan Prancis bersama Ukraina ingin membangun jalur produksi rudal tersebut di Ukraina pada akhir 2026. Deklasifikasi informasi mengenai sejumlah komponen rudal buatan Inggris menjadi salah satu langkah penting untuk merealisasikan rencana itu.
Perdana Menteri Inggris Andy Burnham menyampaikan dukungan tersebut saat mengunjungi Kyiv dalam rangka memperingati kemerdekaan Ukraina pada Senin (24/8/2026). Ia menegaskan Inggris akan terus mendukung Ukraina.
“Rakyat Ukraina tak perlu ragu. Inggris mendukung Anda hari ini dan selama diperlukan,” kata Burnham dalam pernyataan resmi, dikutip CNN.
Burnham juga menegaskan hubungan keamanan antara kedua negara. “Keamanan Ukraina adalah keamanan kita,” ujarnya.
Burnham turut memimpin Coalition of the Willing, aliansi internasional yang disiapkan untuk membantu Ukraina apabila dukungan dari Amerika Serikat berkurang. Koalisi tersebut menjadi salah satu wadah dukungan internasional bagi Ukraina dalam menghadapi Rusia.
SCALP merupakan rudal jelajah jarak jauh dengan hulu ledak konvensional. Ukraina telah menggunakan rudal versi impor tersebut untuk menyerang sejumlah target militer selama perang melawan Rusia.
Menurut Missile Threat dari Center for Strategic and International Studies, Storm Shadow menggunakan mesin turbojet dan memiliki jangkauan hingga 550 kilometer. Rudal tersebut dapat membawa hulu ledak dengan berat hingga 400 kilogram.
Rudal SCALP dapat diluncurkan dari jet tempur Su 24 maupun Mirage 2000 milik Ukraina. Sistem tersebut dirancang untuk menghindari pertahanan udara dengan terbang mengikuti kontur medan.
Ukraina menggunakan rudal tersebut untuk menyerang sejumlah target militer, termasuk bunker komando. Inggris dan Prancis sejauh ini belum mengungkap jumlah rudal SCALP atau Storm Shadow yang telah dipasok kepada Ukraina.
Langkah Inggris tersebut mendapat respons keras dari Rusia. Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov menilai Inggris semakin terlibat dalam konflik dan menyebut keputusan tersebut sebagai tindakan yang “menambah bahan bakar ke dalam api.”












