JAKARTA, Cobisnis.com – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menyelimuti Kota Pontianak, Kalimantan Barat (Kalbar). Dalam beberapa hari terakhir, kondisi asap dilaporkan semakin pekat.
Kondisi tersebut memicu kekhawatiran orang tua siswa terhadap kesehatan anak-anak mereka.
Pemerintah daerah pun diharapkan mempertimbangkan penghentian sementara pembelajaran tatap muka atau mengalihkan kegiatan belajar mengajar ke sistem daring.
Rahmawati, orang tua siswa kelas 2 MIN 4 Pontianak, mengatakan kabut asap kembali terasa pekat sejak tiga hari terakhir.
Ia berharap pemerintah segera mengambil langkah untuk mengurangi risiko paparan asap terhadap para siswa.
“Dalam tiga hari ini asap mulai pekat. Hari ini juga. Sebelumnya sempat libur, sudah masuk lagi.
Kalau kondisi mulai pekat lagi, saya berharap kembali sekolah diliburkan atau belajar dari rumah saja secara daring,” kata Rahmawati, di kutip dari beberapa sumber, Jumat (21/8/26).
Menurut Rahmawati, kondisi udara yang memburuk membuatnya cemas jika anak tetap mengikuti pembelajaran secara langsung di sekolah.
Paparan asap dalam kondisi kualitas udara buruk dinilai dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan, termasuk infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).
Ia juga menilai anak-anak belum sepenuhnya memahami bahaya paparan kabut asap, terutama ketika beraktivitas di luar ruangan.
“Kita tahu anak-anak di sekolah pasti bermain di luar dan belum mengerti betul asap itu berbahaya. Jadi kami harap Pemerintah Kota Pontianak melalui dinas terkait mengeluarkan kebijakan untuk sementara bisa meliburkan atau belajar secara daring,” ujarnya.
Kabut asap telah berdampak pada sejumlah wilayah di Kalimantan Barat sejak Agustus 2026. Kondisi tersebut berkaitan dengan kebakaran lahan yang terjadi di sejumlah daerah.
Berdasarkan hasil pemantauan pada 20 Agustus 2026, terdapat 3.759 titik panas yang terdeteksi di wilayah Kalimantan Barat. Data tersebut berasal dari BPBD Kalbar berdasarkan pemantauan BMKG.
Dari total titik panas tersebut, sebanyak 224 titik memiliki tingkat kepercayaan tinggi. Kemudian, 3.389 titik berada pada tingkat kepercayaan menengah dan 146 titik memiliki tingkat kepercayaan rendah.
Ketapang menjadi wilayah dengan jumlah titik panas paling banyak, yakni mencapai 1.795 titik. Setelah itu Sanggau dengan 466 titik, Landak 268 titik, Kubu Raya 254 titik, Kayong Utara 200 titik, dan Melawi 190 titik.
Di sisi lain, kualitas udara di Kota Pontianak juga menunjukkan kondisi yang mengkhawatirkan. Berdasarkan data IQAir, indeks kualitas udara Pontianak mencapai 491 pada pukul 09.00 WIB, Jumat (21/8).
Indeks tersebut berada dalam kategori berbahaya (Hazardous). Kondisi kualitas udara seperti ini berpotensi menimbulkan dampak kesehatan bagi masyarakat, khususnya kelompok rentan seperti anak-anak.
PM2.5 menjadi polutan utama dengan konsentrasi mencapai 321 mikrogram per meter kubik (µg/m³). Partikel halus tersebut berukuran sangat kecil sehingga dapat masuk jauh ke dalam saluran pernapasan saat terhirup.
Masyarakat diimbau memantau kondisi kualitas udara sebelum melakukan aktivitas di luar rumah. Ketika kualitas udara berada dalam kategori sangat buruk, aktivitas fisik di luar ruangan sebaiknya dikurangi guna membatasi paparan polusi.













