JAKARTA, Cobisnis.com – Semakin banyak masyarakat memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) untuk mencari informasi kesehatan. Namun, pengguna perlu memahami risiko sebelum mengunggah data medis ke platform AI.
Saat mengalami gejala yang belum diketahui penyebabnya, sebagian orang kini memilih bertanya kepada AI. Mereka meminta penjelasan mengenai kemungkinan diagnosis hingga langkah penanganan awal.
Teknologi AI memang semakin mudah diakses dalam beberapa tahun terakhir. Karena itu, penggunaan AI untuk kebutuhan kesehatan terus meningkat di berbagai negara.
Survei organisasi kebijakan kesehatan KFF pada Maret menunjukkan satu dari tiga orang dewasa di Amerika Serikat pernah berkonsultasi dengan AI mengenai kondisi kesehatannya.
Sementara itu, ChatGPT menjadi platform AI yang paling banyak digunakan di Amerika Serikat. Sebanyak 44 persen orang dewasa di negara tersebut mengaku pernah memakainya.
Selain itu, OpenAI menyebut lebih dari 300 juta orang di seluruh dunia menggunakan ChatGPT setiap pekan. Banyak di antaranya mencari jawaban atas pertanyaan seputar kesehatan.
Meski begitu, para ahli mengingatkan bahwa AI bukan pengganti tenaga medis profesional. AI dapat membantu memberikan informasi awal, tetapi tidak dapat menggantikan diagnosis maupun pemeriksaan langsung oleh dokter.
Di sisi lain, pengguna juga perlu berhati-hati saat mengunggah rekam medis, hasil laboratorium, atau informasi kesehatan pribadi. Data tersebut berpotensi mengandung informasi sensitif yang harus dijaga kerahasiaannya.
Karena itu, masyarakat disarankan menggunakan AI sebagai sumber informasi pendukung. Jika keluhan berlanjut atau memburuk, konsultasi dengan tenaga kesehatan tetap menjadi langkah yang paling tepat.













