JAKARTA, Cobisnis.com – Dunia menghadapi kekurangan tenaga pengajar yang besar dengan kebutuhan sekitar 50 juta guru tambahan hingga 2030 untuk memastikan akses pendidikan universal dari tingkat prasekolah hingga menengah.
Data tersebut dirilis UNESCO bertepatan dengan peringatan Hari Guru Sedunia pada 5 Oktober 2026, sekaligus menandai 60 tahun berlakunya Rekomendasi ILO-UNESCO tentang Status Guru.
Dari jumlah tersebut, sekitar 44 juta guru tambahan dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan pendidikan dasar dan menengah, sedangkan sekitar 6 juta lainnya diperlukan untuk pendidikan anak usia dini.
UNESCO bersama Organisasi Buruh Internasional (ILO), UNICEF, dan Education International menilai persoalan tersebut tidak hanya dapat diatasi melalui perekrutan tenaga pengajar baru.
Perlindungan, peningkatan status, kesejahteraan, serta upaya mempertahankan guru berpengalaman juga dinilai menjadi bagian penting dalam mengatasi krisis tenaga pengajar.
Data terbaru UNESCO menunjukkan sekitar 58 persen guru yang dibutuhkan hingga 2030 nantinya diperlukan untuk menggantikan tenaga pengajar yang meninggalkan profesinya. Tingkat keluar dari profesi tercatat mencapai 7,2 persen pada pendidikan prasekolah, 5,4 persen pada pendidikan menengah, dan 4,7 persen pada pendidikan dasar.
Karena itu, profesi guru perlu ditransformasi agar menawarkan jalur karier yang menarik, adil, dan berkelanjutan bagi para pengajar.
Perhatian juga diarahkan pada kesetaraan gender, termasuk membuka lebih banyak kesempatan bagi guru perempuan untuk menempati posisi kepemimpinan di institusi pendidikan.
Hari Guru Sedunia diperingati setiap 5 Oktober untuk mengapresiasi kontribusi para pendidik sekaligus meningkatkan perhatian terhadap kondisi profesi guru secara global.
Peringatan tahun ini menjadi momentum untuk meninjau kembali status profesi guru setelah enam dekade Rekomendasi ILO-UNESCO 1966 menjadi acuan mengenai hak, tanggung jawab, kualifikasi, perekrutan, kondisi kerja, serta pendidikan dan pelatihan tenaga pengajar.













