JAKARTA, Cobisnis.com – Perkembangan teknologi yang semakin cepat membuat orang tua dituntut menyiapkan anak menghadapi masa depan dengan cara belajar yang lebih adaptif. Salah satu pendekatan yang mulai banyak diperkenalkan adalah pola asuh multi learning.
Konsep ini mendorong anak untuk mengeksplorasi berbagai bidang pengetahuan dan aktivitas sejak usia dini. Tujuannya bukan sekadar menguasai banyak hal, tetapi melatih kemampuan menghubungkan berbagai pengalaman menjadi ide dan solusi baru.
Category Marketing Manager Wyeth Nutrition S-26, Vera Niki Gozali, mengatakan anak perlu diberi kesempatan mengeksplorasi minat agar lebih siap menghadapi perubahan di masa depan. Menurutnya, kemampuan beradaptasi menjadi salah satu bekal penting bagi Generasi Alfa dan Beta.
Pendekatan multi learning dinilai berbeda dari metode belajar yang hanya berfokus pada satu bidang. Anak diajak mengenal beragam ilmu, seni, olahraga, hingga teknologi agar memiliki cara berpikir yang lebih luas.
Vera menjelaskan proses tersebut membantu anak membangun kemampuan menghubungkan berbagai pengetahuan yang dipelajari. Keterampilan inilah yang dibutuhkan untuk menghadapi tantangan di era digital yang terus berubah.
Dokter spesialis anak, dr. Yoga Andika, Sp.A, menambahkan bahwa masa emas perkembangan otak terjadi pada usia nol hingga lima tahun. Pada periode tersebut, pengalaman belajar yang beragam berperan penting dalam membentuk koneksi antarsel saraf di otak.
Menurutnya, semakin banyak pengalaman positif yang diterima anak, semakin baik perkembangan kemampuan berpikirnya. Aktivitas seperti bermain musik, olahraga, hingga eksperimen sederhana dapat merangsang terbentuknya koneksi saraf yang lebih optimal.
Sebagai contoh, anak yang belajar bermain piano disebut memiliki peluang mengembangkan koordinasi otak kanan dan kiri secara lebih seimbang. Hal itu dapat mendukung kemampuan logika, kreativitas, dan pemecahan masalah.
Konsep ini juga diterapkan oleh orang tua Ashton Alexander Fung, anak dengan IQ 145. Sejak kecil, Ashton diperkenalkan pada berbagai aktivitas seperti matematika, sains, kecerdasan buatan, bermain piano, golf, hingga berkuda tanpa dipaksa memilih satu bidang tertentu.
Orang tua Ashton menilai kebebasan mengeksplorasi minat membuat anak mampu menemukan bakatnya secara alami. Saat merasa jenuh dengan satu aktivitas, anak dapat beralih ke kegiatan lain yang tetap mendukung proses belajar dan perkembangan dirinya.













