• © Copyright 2025 Cobinis.com – All Right Reserved
Thursday, January 15, 2026
Cobisnis
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Ekonomi Bisnis
  • Nasional
  • Lifestyle
  • Entertaiment
  • Humaniora
  • Sport
  • Teknologi
  • Otomotif
  • Foto
  • Beranda
  • Ekonomi Bisnis
  • Nasional
  • Lifestyle
  • Entertaiment
  • Humaniora
  • Sport
  • Teknologi
  • Otomotif
  • Foto
No Result
View All Result
Cobisnis
No Result
View All Result
Home Ekonomi Bisnis

Negara Penghasil Bahan Mentah Masih Sulit Naik Kelas, Nilai Tambah Justru Lari ke Negara Pengolah

M.Dhayfan Al-ghiffari by M.Dhayfan Al-ghiffari
October 5, 2025
in Ekonomi Bisnis
0
Negara Penghasil Bahan Mentah Masih Sulit Naik Kelas, Nilai Tambah Justru Lari ke Negara Pengolah

JAKARTA, Cobisnis.com – Ketimpangan ekonomi global kembali menjadi sorotan setelah berbagai laporan menunjukkan bahwa negara-negara penghasil bahan mentah masih belum mampu menikmati nilai tambah dari komoditas yang mereka hasilkan. Dalam rantai ekonomi global, negara maju tetap mendominasi sektor pengolahan, teknologi, dan distribusi yang menciptakan keuntungan tertinggi.

Struktur rantai nilai global atau Global Value Chain menempatkan negara berkembang di posisi awal sebagai penyedia bahan mentah seperti nikel, kakao, minyak sawit, hingga tembaga. Sementara itu, negara maju menguasai tahap hilir melalui proses pengolahan, branding, dan pemasaran produk jadi yang bernilai tinggi. Akibatnya, keuntungan terbesar justru tidak kembali ke negara asal komoditas tersebut.

Perbedaan teknologi menjadi salah satu penyebab utama kesenjangan nilai ekonomi ini. Negara maju memiliki kemampuan riset dan industri yang mumpuni untuk mengubah bahan mentah bernilai rendah menjadi produk industri bernilai tinggi. Contohnya, nikel mentah dari Asia Tenggara menjadi bahan baku utama baterai kendaraan listrik di Jepang dan Korea Selatan dengan nilai jual berkali lipat.

Keterbatasan infrastruktur dan biaya logistik juga menahan negara penghasil bahan mentah di posisi bawah rantai ekonomi. Minimnya akses energi murah, sistem transportasi efisien, dan pendanaan industri membuat pengolahan di dalam negeri kurang kompetitif. Akibatnya, ekspor bahan mentah tetap menjadi pilihan yang paling realistis secara ekonomi jangka pendek.

Selain itu, sistem perdagangan global masih bias terhadap negara berkembang. Produk mentah umumnya bebas tarif masuk, sementara produk olahan dikenakan tarif tinggi di pasar negara maju. Pola ini disebut tariff escalation, yang secara struktural membuat negara produsen sulit mengembangkan industri pengolahan bernilai tambah di dalam negeri.

Dominasi perusahaan multinasional (MNC) juga memperkuat ketimpangan tersebut. Banyak perusahaan besar mengendalikan rantai pasok dari hulu hingga hilir, membeli bahan mentah langsung dari produsen di negara berkembang dan mengolahnya di luar negeri. Nilai ekonomi terbesar akhirnya terserap di luar negeri, sementara negara penghasil hanya mendapat royalti kecil dan upah rendah.

Keterbatasan alih teknologi memperburuk kondisi ini. Negara pengolah memiliki insentif untuk menjaga keunggulan teknologinya, sehingga negara produsen sulit melakukan lompatan industri. Fenomena ini dikenal sebagai low value trap, di mana negara penghasil terus terjebak dalam sektor primer tanpa mampu beralih ke sektor manufaktur bernilai tinggi.

Harga bahan mentah yang sangat fluktuatif turut menambah kerentanan ekonomi negara produsen. Ketika harga global jatuh, penerimaan ekspor langsung anjlok, memengaruhi stabilitas fiskal dan cadangan devisa. Sementara itu, negara pengolah tetap mendapat keuntungan dari diversifikasi produk jadi dengan nilai yang lebih stabil di pasar internasional.

Beberapa negara mulai melawan arus. Indonesia misalnya, telah menerapkan larangan ekspor nikel mentah untuk menarik investasi di sektor smelter dan baterai kendaraan listrik. Langkah ini menjadi contoh upaya hilirisasi ekonomi, di mana negara produsen berusaha merebut kembali sebagian nilai tambah yang selama ini dinikmati oleh negara pengolah.

Namun, transisi menuju industrialisasi bernilai tambah membutuhkan waktu dan modal besar. Tanpa transfer teknologi, dukungan riset, dan reformasi kebijakan perdagangan, negara penghasil bahan mentah akan terus berada di posisi lemah dalam rantai nilai global. Ketimpangan ekonomi ini menunjukkan bahwa sumber daya alam melimpah belum tentu menjamin kemakmuran jangka panjang.

Download WordPress Themes Free
Premium WordPress Themes Download
Download Best WordPress Themes Free Download
Download Nulled WordPress Themes
udemy paid course free download
download xiomi firmware
Download Premium WordPress Themes Free
lynda course free download
Tags: CobisnisEkonomi globalindustri duniaPebisnismudaPerdagangan internasional

Related Posts

AS Tarik 25 Persen dari Penjualan Chip Nvidia H200 ke China

AS Tarik 25 Persen dari Penjualan Chip Nvidia H200 ke China

by M.Dhayfan Al-ghiffari
January 15, 2026
0

JAKARTA, Cobisnis.com – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyatakan pemerintahannya menyetujui penjualan chip AI Nvidia H200 ke China dengan ketentuan...

Sejarah Turkish Delight, dari Istana Ottoman hingga Cemilan Dunia

Sejarah Turkish Delight, dari Istana Ottoman hingga Cemilan Dunia

by M.Dhayfan Al-ghiffari
January 15, 2026
0

JAKARTA, Cobisnis.com – Turkish Delight, atau dikenal sebagai lokum, adalah permen tradisional Turki yang sudah ada sejak abad ke-15. Permen...

Mengulik Sejarah Sultan Ahmed Mosque, Masjid Ikonik Turki

Mengulik Sejarah Sultan Ahmed Mosque, Masjid Ikonik Turki

by M.Dhayfan Al-ghiffari
January 15, 2026
0

JAKARTA, Cobisnis.com – Sultan Ahmed Mosque, yang dikenal dengan julukan Blue Mosque, adalah salah satu ikon paling terkenal di Istanbul,...

Iran Tak Gentar Ancaman AS–Israel, Konflik Kawasan Kian Memanas

Iran Tak Gentar Ancaman AS–Israel, Konflik Kawasan Kian Memanas

by M.Dhayfan Al-ghiffari
January 15, 2026
0

JAKARTA, Cobisnis.com – Ketegangan geopolitik global kembali menguat setelah Iran menyatakan kesiapan menghadapi potensi konflik bersenjata dengan Amerika Serikat dan...

Cuma Makan Putih Telur Saat Sarapan, Ini yang Terjadi

Cuma Makan Putih Telur Saat Sarapan, Ini yang Terjadi

by M.Dhayfan Al-ghiffari
January 15, 2026
0

JAKARTA, Cobisnis.com – Ahli diet asal Amerika Serikat, Karen Ansel, RDN, mencoba pola sarapan ekstrem dengan hanya mengonsumsi putih telur...

Load More
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Ari Askhara

Pernah Berkasus di Garuda Indonesia, Ari Askhara Kini Jadi Dirut HUMI

January 15, 2026
Fabio Di Giannantonio Pilih Jalur Sendiri, Tak Mau Ikuti Setup Marc Marquez di MotoGP 2025

Malam Nisfu Syaban 2026 Jatuh Awal Februari, Ini Waktu dan Amalan yang Dianjurkan

January 12, 2026
Purbaya Sebut Coretax Masih Banyak Masalah, Perbaikan 1 Bulan Belum Cukup

Purbaya Tegas: Rokok Ilegal Harus Masuk Sistem atau Ditindak

January 14, 2026
Diplomasi Drumstick Warnai Pertemuan Jepang dan Korea Selatan Saat Pemimpin Mainkan Lagu K-Pop

Diplomasi Drumstick Warnai Pertemuan Jepang dan Korea Selatan Saat Pemimpin Mainkan Lagu K-Pop

January 14, 2026
OJK

OJK Laporkan Temuan Fraud Dana Syariah Indonesia (DSI) ke Polisi

January 15, 2026
Yusril: Pilkada Melalui DPRD Sah secara Konstitusi dan Lebih Mudah Diawasi

Yusril: Pilkada Melalui DPRD Sah secara Konstitusi dan Lebih Mudah Diawasi

January 15, 2026
Grok Milik Elon Musk Tak Lagi Bisa Menelanjangi Gambar Orang Asli Di X

Grok Milik Elon Musk Tak Lagi Bisa Menelanjangi Gambar Orang Asli Di X

January 15, 2026
BTS Dongkrak K-pop Jadi Fenomena Global. Hampir Empat Tahun Kemudian, Mereka Kembali

BTS Dongkrak K-pop Jadi Fenomena Global. Hampir Empat Tahun Kemudian, Mereka Kembali

January 15, 2026
">
  • Redaksi
  • Profil
  • Media Kit
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Cyber
  • Kontak

© Copyright 2025 Cobinis.com - All Right Reserved

No Result
View All Result
  • Home
  • Ekonomi & Bisnis
  • Nasional
  • Industri
  • Lifestyle
  • Humaniora
  • Kesehatan & Olahraga
  • Startup Center
  • Foto
  • Youtube

© Copyright 2025 Cobinis.com - All Right Reserved