JAKARTA, Cobisnis.com – Menjelang Piala Dunia 2026, pemesanan hotel di Amerika Serikat belum menunjukkan lonjakan signifikan. Turnamen ini akan digelar di tiga negara, yakni AS, Meksiko, dan Kanada.
Namun, data terbaru menunjukkan tren yang kurang menggembirakan. Banyak pelaku industri perhotelan mulai waspada terhadap potensi rendahnya kunjungan.
Menurut laporan The Athletic, American Hotel and Lodging Association (AHLA) menemukan permintaan kamar masih di bawah ekspektasi. Survei ini melibatkan ribuan properti di kota tuan rumah.
Hampir 80 persen responden melaporkan tingkat reservasi belum sesuai target. Sementara itu, okupansi diperkirakan masih di bawah 70 persen.
Kondisi ini memicu kekhawatiran baru. Dampak ekonomi turnamen bisa lebih kecil dari proyeksi awal.
Sebelumnya, Gianni Infantino menyebut ajang ini berpotensi menghasilkan 30 miliar dolar AS. Namun, realisasi angka tersebut kini mulai dipertanyakan.
Di sisi lain, beberapa faktor menekan minat pengunjung. Harga tiket pesawat meningkat dalam beberapa bulan terakhir.
Selain itu, situasi geopolitik global juga ikut memengaruhi keputusan perjalanan. Banyak calon penonton memilih menunda rencana mereka.
Tak hanya itu, harga tiket pertandingan juga tergolong tinggi. Hal ini membuat sebagian fans berpikir ulang.
Sementara itu, tarif hotel justru melonjak tajam. Pada awal turnamen, harga kamar bisa mencapai 1.013 dolar AS per malam.
Sebagai perbandingan, harga normal di akhir Mei hanya sekitar 293 dolar AS. Kenaikan ini membuat biaya perjalanan semakin mahal.
Akibatnya, sebagian wisatawan memilih membatalkan atau menunda kunjungan. Tren ini bisa berdampak pada sektor pariwisata secara keseluruhan.













