JAKARTA, Cobisnis.com – Warga Amerika Serikat masih menghadapi tekanan akibat tingginya harga bahan bakar. Kondisi tersebut diperkirakan akan terus berlanjut hingga musim gugur tahun ini.
Salah satu warga yang merasakan dampaknya adalah Linda French, pensiunan guru berusia 78 tahun dari Jonesborough, Tennessee. Ia berharap bisa mengunjungi kakaknya yang sedang menjalani pemulihan setelah operasi pinggul di New York.
Namun, harga bensin yang tetap tinggi membuat French tidak mampu menempuh perjalanan ratusan mil dengan mobil. Sementara itu, biaya perjalanan udara juga meningkat tajam dalam beberapa bulan terakhir.
French mengatakan harga tiket pesawat yang pernah ia beli pada Maret kini telah meningkat lebih dari dua kali lipat. Karena itu, opsi bepergian dengan pesawat juga tidak lagi terjangkau baginya.
Akibat keterbatasan tersebut, French hanya dapat berkomunikasi dengan keluarganya melalui panggilan FaceTime. Meski begitu, ia mengaku pengalaman itu tidak dapat menggantikan pertemuan secara langsung.
Selain itu, ia merasa kehilangan momen berharga bersama keluarga besarnya. French mengatakan dirinya tidak bisa memeluk anggota keluarga atau bermain dengan keponakan-keponakannya yang masih kecil.
“Kami semua semakin bertambah tua. Sulit rasanya tidak bisa bertemu mereka,” ujar French.
Kisah French mencerminkan tantangan yang dihadapi banyak keluarga di Amerika Serikat. Tingginya harga bahan bakar tidak hanya membebani pengeluaran rumah tangga, tetapi juga membatasi mobilitas dan interaksi keluarga.
Di sisi lain, kenaikan biaya transportasi udara turut mempersempit pilihan perjalanan bagi masyarakat. Karena itu, banyak warga terpaksa menunda perjalanan atau mengurangi aktivitas yang membutuhkan biaya transportasi tinggi.













