JAKARTA, Cobisnis.com – Kandidat Senat dari Partai Demokrat di Texas, James Talarico, mengkritik tindakan pemerintahan Presiden Donald Trump terkait pengawasan media. Ia menilai tekanan terhadap stasiun televisi dan program siaran merupakan bentuk “cancel culture” yang berbahaya.
Talarico menyampaikan pernyataan tersebut pada Kamis. Pernyataan itu muncul menjelang wawancaranya dengan pembawa acara larut malam ABC, Jimmy Kimmel.
Kimmel dikenal sebagai salah satu pengkritik vokal Presiden Trump. Karena itu, wawancara tersebut menarik perhatian publik dan kalangan media.
Dalam siaran pada Rabu malam, Kimmel mengklaim bahwa Komisi Komunikasi Federal Amerika Serikat (FCC) telah memberikan tekanan terhadap dirinya dan program yang dipandunya.
Selain itu, Kimmel mengatakan tekanan tersebut juga menyasar jaringan televisi tempat acaranya ditayangkan serta sejumlah stasiun lokal.
“Sekarang setelah dia menjadi presiden, FCC miliknya telah mengancam saya, mengancam acara kami, mengancam jaringan kami,” kata Kimmel dalam programnya.
Menurut Kimmel, ancaman itu berkaitan dengan keputusan editorial yang biasa dilakukan media. Ia menyebut FCC tidak menyukai beberapa pilihan tamu dan keputusan redaksional tertentu.
Sementara itu, Talarico menilai langkah tersebut dapat berdampak pada kebebasan pers dan independensi media. Karena itu, ia menyebut praktik tersebut sebagai bentuk cancel culture yang lebih berbahaya dibandingkan tekanan yang sering diperdebatkan di ruang publik.
Di sisi lain, isu hubungan antara pemerintah dan media kembali menjadi sorotan menjelang berbagai agenda politik nasional di Amerika Serikat. Para pengamat menilai perdebatan mengenai kebebasan berekspresi dan pengawasan media kemungkinan akan terus berlanjut.













