JAKARTA, Cobisnis.com – Perang di Timur Tengah mulai menekan sektor industri Indonesia, tercermin dari penurunan aktivitas manufaktur pada Maret 2026.
Data S&P Global menunjukkan Purchasing Managers’ Index (PMI) Indonesia berada di level 50,1. Angka ini turun tajam dari 53,8 pada Februari dan menjadi yang terendah dalam delapan bulan terakhir.
Penurunan PMI ini menandakan pertumbuhan industri mulai melambat. Meski masih di atas level 50, tekanan pada sektor manufaktur terlihat semakin nyata.
Ekonom S&P Global Market Intelligence, Usamah Bhatti, menyebut konflik di Timur Tengah menjadi salah satu pemicu utama. Gangguan pasokan bahan baku dan melemahnya permintaan ikut memperburuk kondisi.
Volume produksi dan pesanan baru kembali mengalami kontraksi. Kondisi ini menjadi sinyal bahwa aktivitas industri tidak lagi sekuat awal tahun.
Permintaan ekspor juga mengalami penurunan setelah sempat meningkat pada Februari. Hal ini semakin menekan kinerja sektor manufaktur secara keseluruhan.
Dampaknya mulai terasa pada operasional perusahaan. Aktivitas pembelian bahan baku dikurangi untuk pertama kalinya sejak Juli 2025.
Selain itu, perusahaan juga mulai menahan perekrutan tenaga kerja. Penyesuaian ini dilakukan untuk menjaga efisiensi di tengah ketidakpastian pasar.
Dari sisi biaya, tekanan inflasi semakin meningkat. Harga bahan baku naik ke level tertinggi sejak Maret 2024 akibat kelangkaan dan gangguan distribusi.
Harga jual produk juga ikut terdorong naik, mencatat kenaikan tercepat sejak Juni 2022. Kondisi ini berisiko menekan daya beli dan permintaan domestik.
Meski demikian, pelaku industri masih menyimpan optimisme. Harapan pemulihan permintaan dan meredanya konflik menjadi penopang sentimen ke depan.
Namun, data ini menunjukkan sektor manufaktur Indonesia masih rentan terhadap gejolak global. Stabilitas pasokan dan harga menjadi faktor kunci bagi keberlanjutan industri.













