JAKARTA, Cobisnis.com – Rupiah kembali tertekan pada pembukaan perdagangan Rabu pagi, 3 Juni 2026. Nilai tukar rupiah di pasar spot melemah 80,50 poin atau 0,45 persen ke level Rp17.919 per dolar AS, melanjutkan tren pelemahan beberapa hari terakhir.
Analis mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi menyebut tekanan rupiah berasal dari faktor eksternal dan domestik. Dari luar negeri, penguatan harga minyak dunia dan meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah menjadi sentimen utama.
Harga minyak mentah Brent naik 1,02 dolar AS menjadi 96 dolar per barel. Sementara West Texas Intermediate (WTI) menguat 1,60 dolar ke 93,76 dolar per barel, level tertinggi sejak 26 Mei 2026.
Kenaikan harga minyak dipicu ketidakpastian perundingan Amerika Serikat dan Iran yang belum mencapai titik temu. Isu pengayaan uranium masih menjadi hambatan utama dalam negosiasi kedua negara.
Di sisi lain, penguatan dolar AS turut menambah tekanan pada rupiah. Ekspektasi suku bunga tinggi The Federal Reserve dinilai masih akan bertahan lebih lama di tengah risiko inflasi akibat kenaikan harga energi global.
Dari dalam negeri, kebutuhan dolar meningkat untuk impor energi serta pembayaran dividen dan utang luar negeri yang jatuh tempo. Kondisi ini memperlemah posisi rupiah di pasar.
Ibrahim menilai penguatan rupiah jangka panjang membutuhkan perbaikan struktural, termasuk percepatan industrialisasi, pengembangan ekonomi, dan reformasi perizinan investasi agar Indonesia lebih kompetitif di mata investor.













