JAKARTA, Cobisnis.com – Permainan trading card atau kartu Pokemon kembali menjadi tren di berbagai kalangan. Popularitasnya bahkan membuat banyak artis dan influencer ikut mengoleksi kartu tersebut.
Pokemon sendiri merupakan serial anime lawas yang pertama kali tayang pada 1997. Hingga kini, karakter Pokemon terus berkembang dan memasuki generasi terbaru.
Popularitas Pokemon membuat waralaba ini berkembang sangat besar di bawah Nintendo. Produk turunannya mencakup gim, mainan, merchandise, hingga kartu koleksi yang kini kembali diminati.
Awalnya, kartu Pokemon ditujukan sebagai permainan anak-anak. Namun seiring waktu, kartu tersebut berubah menjadi barang koleksi bernilai tinggi bahkan dianggap sebagai aset investasi.
Salah satu faktor utama yang membuat harga kartu Pokemon melonjak adalah tingkat kelangkaannya. Beberapa kartu diproduksi terbatas dan tidak dicetak ulang.
Selain kelangkaan, kondisi fisik kartu juga memengaruhi harga di pasaran. Semakin baik kualitas dan grading kartu, nilainya bisa semakin fantastis.
Fenomena ini turut dibahas dalam Podcast Suar Akademia bersama Dosen Komunikasi Universitas Gadjah Mada, Jusuf Ariz. Saat ini, Jusuf diketahui sedang menempuh studi S3 di Flinders University Adelaide.
Menurut Jusuf, tren kartu Pokemon saat ini banyak dipengaruhi rasa nostalgia para kolektor. Kebanyakan penggemar sudah memiliki kedekatan dengan Pokemon sejak masa kecil.
Ia juga menilai media sosial dan marketplace ikut memperbesar tren tersebut. Akses membeli kartu Pokemon kini semakin mudah dibanding beberapa tahun lalu.
Jusuf menyarankan masyarakat menikmati aspek komunitas dan permainan kartu itu sendiri sebelum menjadikannya investasi. Menurutnya, langkah itu penting agar kolektor tidak kecewa ketika nilai kartu mengalami kenaikan atau penurunan secara tiba-tiba.













