JAKARTA, Cobisnis.com – Felix Siauw membahas dampak kehidupan modern yang semakin mudah dan nyaman terhadap manusia, ia mengangkat konsep voluntary hardship atau kesulitan yang sengaja dipilih.
Felix menilai kemudahan hidup memiliki konsekuensi karena manusia semakin jarang menghadapi tantangan yang sebelumnya menjadi bagian dari kehidupan sehari hari. Menurutnya, manusia perlu memberikan tantangan secara terkontrol agar tetap berkembang.
“Jadi, coba kita lihat ya. Kita coba simpulkan ya, bahwasanya otak manusia itu memang dirancang untuk melakukan sebuah kesulitan,” kata Felix, dikutip dari kanal Youtube Felix Siauw, Jumat (28/8/2026).
Ia menjelaskan, manusia pada masa lalu harus menggunakan lebih banyak kemampuan fisik dan mental untuk menjalani kehidupan. Mulai dari mencari makanan, mengingat informasi, hingga bepergian membutuhkan usaha yang jauh lebih besar dibandingkan saat ini.
Menurut Felix, perkembangan teknologi membuat banyak aktivitas menjadi jauh lebih praktis. Internet, layanan pesan instan, navigasi digital, hingga layanan pesan antar membuat manusia tidak lagi harus mengeluarkan usaha sebesar generasi sebelumnya.
“Artinya kehidupan manja, kehidupan mudah yang dialami oleh manusia itu baru-baru banget,” ujarnya.
Felix kemudian memperkenalkan istilah voluntary hardship, yaitu kondisi ketika seseorang secara sadar memilih aktivitas yang lebih sulit meski sebenarnya tidak harus melakukannya. Ia mencontohkan olahraga di gym sebagai salah satu bentuknya.
“Jadi, di zaman sekarang tuh ada namanya kesulitan yang volunteer. Jadi kesulitan yang dipilih. Jadi, kesulitan yang kita rela,” kata Felix.
Menurutnya, gym menjadi contoh menarik karena seseorang rela membayar untuk melakukan aktivitas yang melelahkan. Hal tersebut berbeda dengan generasi sebelumnya yang secara alami mendapatkan aktivitas fisik dari pekerjaan dan rutinitas sehari hari.
Felix juga menyebut intermittent fasting, mandi air dingin, meditasi, journaling, mengurangi penggunaan ponsel, hingga bangun pagi sebagai contoh lain. Aktivitas tersebut dilakukan secara sengaja untuk menghadirkan tantangan di tengah kehidupan yang semakin nyaman.
“Oke, long story short, otak kita perlu challenge, otak kita perlu hardship,” ujar Felix.
Ia kemudian mengaitkan gagasan tersebut dengan ajaran Islam. Felix membahas Surah Al Balad ayat 4, Laqad khalaqnal insana fi kabad, yang menurutnya menggambarkan manusia sebagai makhluk yang menjalani kehidupan dengan kesulitan dan perjuangan.
Felix juga menyinggung konsep neuroplasticity atau kemampuan otak untuk beradaptasi. Ia mencontohkan pengemudi taksi di London yang harus menghafal banyak rute sebagai gambaran bagaimana tantangan dapat membuat kemampuan tertentu terus digunakan.
“Artinya pada orang-orang senior pun ketika dipaparkan pada sesuatu controlled hardship atau voluntary hardship tadi, mereka tetap bisa mengembangkan otak mereka,” katanya.
Di akhir pembahasannya, Felix menekankan bahwa tantangan tetap diperlukan dalam kehidupan modern. Ia mendorong orang untuk tidak sepenuhnya larut dalam kenyamanan dan mulai mencari kesulitan yang terkontrol sebagai bagian dari upaya melatih diri.
“Kalau Anda mau hidupnya normal, cari kesulitan-kesulitan dalam hidup dan harus tercandu kepada itu. Kecanduan pada hal-hal sulit karena kehidupan zaman sekarang itu membunuh,” ujar Felix.













