JAKARTA, Cobisnis.com – Elon Musk kembali menyoroti konsep Skala Kardashev saat memaparkan visi jangka panjang SpaceX. Konsep tersebut menjadi salah satu dasar ambisinya untuk membawa peradaban manusia ke tingkat teknologi yang lebih maju.
Skala Kardashev pertama kali diperkenalkan astronom Uni Soviet, Nikolai Kardashev, pada 1960-an. Saat itu, ia mengembangkan metode untuk mengelompokkan peradaban berdasarkan kemampuan mereka memanfaatkan energi.
Kardashev menyusun gagasan itu ketika para astronom mulai menangkap sinyal radio misterius dari luar angkasa. Karena tertarik pada kemungkinan adanya kehidupan cerdas di alam semesta, ia mengusulkan sistem klasifikasi yang mengukur kapasitas energi sebuah peradaban.
Dalam konsep tersebut, Peradaban Tipe I mampu memanfaatkan seluruh energi yang tersedia di planetnya. Sementara itu, Peradaban Tipe II dapat memanfaatkan energi dari bintang induknya. Adapun Peradaban Tipe III diperkirakan mampu mengendalikan energi dalam skala galaksi.
Elon Musk beberapa kali menyebut Skala Kardashev melalui platform X dan dokumen resmi SpaceX. Selain itu, ia kembali membahas konsep tersebut menjelang penawaran umum perdana atau initial public offering (IPO) SpaceX.
SpaceX juga mengajukan permohonan kepada Komisi Komunikasi Federal Amerika Serikat (FCC) untuk meluncurkan hingga satu juta satelit baru ke orbit. Perusahaan itu ingin membangun pusat data di luar angkasa sebagai bagian dari infrastruktur masa depan.
Menurut Musk, jaringan satelit tersebut dapat menjadi langkah awal menuju Peradaban Kardashev Tipe II. Karena itu, SpaceX tidak hanya berfokus pada layanan internet satelit, tetapi juga menyiapkan fondasi teknologi untuk aktivitas manusia di luar Bumi.
Meski begitu, banyak ilmuwan menilai Skala Kardashev lebih bersifat teori daripada target ilmiah yang dapat dicapai dalam waktu dekat. Namun, konsep itu tetap menjadi salah satu acuan populer dalam pembahasan masa depan eksplorasi antariksa dan pencarian kehidupan di luar Bumi.













