JAKARTA, Cobisnis.com – Kebiasaan terus membaca berita buruk atau konten negatif di media sosial dikenal dengan istilah doomscrolling. Fenomena ini membuat seseorang terus menggulir informasi yang memicu kecemasan meski sadar suasana hatinya semakin memburuk.
Psikoterapis sekaligus pelatih mental, Tess Brigham, menjelaskan salah satu penyebab utama doomscrolling adalah keinginan untuk merasa lebih siap menghadapi situasi yang tidak pasti. Banyak orang percaya semakin banyak informasi yang dimiliki, semakin besar kendali yang mereka rasakan.
Menurut Brigham, anggapan tersebut sebenarnya tidak selalu benar. Informasi yang terus menerus dikonsumsi justru dapat memperbesar rasa khawatir dan membuat seseorang semakin sulit merasa tenang.
Kecenderungan ini juga berkaitan dengan cara kerja otak manusia. Sejak dahulu, manusia memiliki naluri untuk lebih cepat mengenali ancaman sebagai bagian dari mekanisme bertahan hidup.
Akibatnya, berita tentang konflik, bencana, atau krisis sering kali lebih mudah menarik perhatian dibandingkan kabar positif. Otak secara alami menganggap informasi tersebut lebih penting untuk diperhatikan.
Brigham mengatakan orang yang memiliki kecenderungan gangguan kecemasan lebih rentan mengalami doomscrolling. Semakin tinggi rasa cemas, semakin besar dorongan untuk terus mencari informasi sebagai bentuk perlindungan diri.
Sayangnya, kebiasaan tersebut justru menciptakan lingkaran yang sulit diputus. Informasi negatif membuat kecemasan meningkat, lalu rasa cemas mendorong seseorang mencari lebih banyak berita negatif.
Doomscrolling juga sering terjadi tanpa disadari. Seseorang mungkin hanya berniat membuka media sosial beberapa menit, tetapi akhirnya menghabiskan waktu lama berpindah dari satu berita ke berita lainnya.
Menurut Brigham, kebiasaan ini dapat berdampak pada kesehatan mental dan kualitas tidur. Paparan berita negatif secara terus menerus membuat pikiran tetap berada dalam kondisi waspada sehingga tubuh lebih sulit beristirahat.
Untuk mengurangi doomscrolling, Brigham menyarankan membatasi waktu membaca berita setiap hari dan memilih sumber informasi yang kredibel. Mengalihkan perhatian ke aktivitas lain seperti berjalan kaki, membaca buku, atau berbincang dengan keluarga juga dapat membantu mengurangi kebiasaan tersebut.













