JAKARTA, Cobisnis.com – Pemerintah di Guangzhou memperkenalkan aturan baru untuk melindungi tradisi pembuatan dim sum secara manual. Mulai 1 Mei, restoran wajib memberi tahu apakah dim sum dibuat tangan atau menggunakan mesin.
Kebijakan ini bertujuan menjaga warisan budaya kuliner yang telah lama berkembang di wilayah tersebut. Namun, banyak restoran sebelumnya beralih ke produksi otomatis untuk menekan biaya operasional.
Mesin mampu menghasilkan ribuan dumpling per jam, jauh lebih cepat dibanding tenaga manusia. Sementara itu, pembuatan dim sum tradisional membutuhkan keterampilan tinggi dan ketelitian.
Hidangan seperti har gow dan siu mai dikenal karena teknik lipatan dan teksturnya yang khas. Karena itu, banyak pecinta kuliner menilai kualitas terbaik hanya bisa dihasilkan oleh tangan manusia.
Selain soal rasa, dim sum juga menjadi bagian penting budaya sosial di China selatan. Warga setempat sering mengundang teman untuk “yum cha” atau minum teh sambil makan bersama.













