JAKARTA, Cobisnis.com – Keberadaan mikroplastik di dalam tubuh manusia semakin sering ditemukan melalui berbagai penelitian. Namun, para ilmuwan masih memperdebatkan cara paling akurat untuk mengukur jumlah partikel tersebut sehingga hasil antarstudi kerap berbeda.
Mikroplastik telah terdeteksi di berbagai bagian tubuh, termasuk darah, paru-paru, plasenta, hingga otak. Meski demikian, belum ada metode baku yang digunakan secara global untuk mendeteksi dan menghitung partikel-partikel tersebut.
Salah satu tantangan terbesar adalah ukuran mikroplastik dan nanoplastik yang sangat kecil sehingga membutuhkan teknologi analisis berbeda. Setiap laboratorium juga dapat menggunakan prosedur, alat, dan batas deteksi yang tidak sama.
Akibatnya, hasil penelitian dari satu studi belum tentu dapat dibandingkan secara langsung dengan penelitian lainnya. Perbedaan metode dapat menghasilkan estimasi jumlah mikroplastik yang jauh berbeda meski sampel yang dianalisis serupa.
Para peneliti menilai standardisasi menjadi langkah penting agar data dari berbagai negara dapat dibandingkan secara akurat. Dengan metode yang seragam, ilmuwan juga lebih mudah memahami hubungan antara paparan mikroplastik dan risiko kesehatan.
Hingga kini, bukti ilmiah memang menunjukkan mikroplastik dapat masuk ke dalam tubuh manusia melalui makanan, minuman, dan udara yang dihirup. Namun, dampak jangka panjangnya terhadap kesehatan masih terus diteliti dan belum dapat disimpulkan secara pasti.
“Sainsnya masih belum pasti, tetapi ada alasan untuk khawatir,” tulis National Geographic mengenai kondisi penelitian mikroplastik saat ini. Para ahli menekankan bahwa keberadaan partikel plastik di dalam tubuh tidak otomatis berarti menimbulkan penyakit tertentu.
Meski masih banyak pertanyaan yang belum terjawab, penelitian mengenai mikroplastik berkembang sangat pesat dalam beberapa tahun terakhir. Para ilmuwan berharap metode pengukuran yang lebih akurat dapat membantu mengungkap dampak sebenarnya dari mikroplastik terhadap kesehatan manusia.













