JAKARTA, Cobisnis.com – Bangladesh resmi menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) sebesar 10% hingga 15% akibat lonjakan harga minyak global dan gangguan pasokan energi.
Kenaikan ini terjadi di tengah tekanan biaya impor yang terus meningkat. Konflik di Timur Tengah menjadi salah satu pemicu utama terganggunya rantai pasok energi dunia.
Harga bensin kini mencapai 135 taka atau sekitar US$ 1,10 per liter, naik dari sebelumnya 116 taka. Sementara itu, harga solar ditetapkan 115 taka per liter dan minyak tanah naik menjadi 130 taka.
Pemerintah menyebut kenaikan ini tidak bisa dihindari. Biaya pengiriman, asuransi, serta harga minyak mentah yang tinggi membuat beban impor semakin berat.
Sebagai negara yang bergantung pada impor energi, kondisi ini langsung menekan cadangan devisa nasional. Tekanan tersebut membuat ruang fiskal semakin terbatas.
Sebelumnya, pemerintah sempat menahan kenaikan harga dengan subsidi dan pengendalian stok. Namun, langkah tersebut tidak lagi cukup untuk menahan lonjakan biaya.
Untuk menjaga pasokan energi, Bangladesh bahkan mengajukan pembiayaan eksternal lebih dari US$ 2 miliar. Langkah ini dilakukan demi menjaga stabilitas energi dalam negeri.
Kenaikan harga BBM diperkirakan akan mendorong inflasi, terutama di sektor transportasi dan pertanian. Dampaknya berpotensi menaikkan harga pangan dan biaya hidup masyarakat.
Situasi ini menunjukkan bagaimana gejolak global bisa berdampak langsung pada ekonomi domestik. Negara dengan ketergantungan impor energi menjadi yang paling rentan.
Penyesuaian harga ini menjadi langkah realistis di tengah tekanan global. Stabilitas ekonomi kini bergantung pada kemampuan mengelola dampak lanjutan dari krisis energi.













