JAKARTA, Cobisnis.com – Berenang atau bermain air di kolam renang, pantai, sungai, maupun danau memang menyenangkan, tetapi aktivitas tersebut tetap memiliki risiko tenggelam.
Dikutip dari kanal YouTube IniKataDokter, Minggu (27/9/2026), tenggelam merupakan kondisi ketika saluran pernapasan terhambat oleh air atau cairan lain sehingga seseorang kesulitan bernapas.
Saat tenggelam, air dapat masuk ke saluran pernapasan dan mengganggu kemampuan paru-paru mengambil oksigen untuk diedarkan ke seluruh tubuh.
Kekurangan oksigen tersebut dapat mengganggu fungsi organ vital, termasuk otak dan jantung.
Dalam video tersebut dijelaskan, kekurangan oksigen ke otak selama sekitar 2 menit dapat menyebabkan seseorang kehilangan kesadaran, sedangkan pada 4 hingga 6 menit dapat terjadi kerusakan otak permanen.
Semakin lama tubuh kekurangan oksigen, risiko kondisi fatal juga semakin besar.
Tenggelam dapat terjadi karena berbagai faktor, mulai dari kurangnya pengawasan orang tua, tidak bisa berenang, kelelahan, hingga kepanikan ketika berada di dalam air.
Kondisi air yang berbahaya seperti arus deras juga dapat meningkatkan risiko tenggelam, terutama ketika seseorang tidak memahami kondisi perairan.
Konsumsi alkohol atau obat-obatan sebelum berenang juga dapat mengganggu koordinasi dan meningkatkan risiko kecelakaan di air.
Selain itu, kondisi medis tertentu seperti serangan jantung atau epilepsi serta cedera akibat melompat ke air juga dapat menyebabkan seseorang tenggelam.
Korban tenggelam biasanya tidak selalu mampu berteriak meminta pertolongan karena mulut dan hidung dapat terisi air sehingga kesulitan bernapas.
Korban dapat terlihat menggerakkan tangan untuk meraih sesuatu dan berusaha mempertahankan posisi kepala agar tetap berada di atas permukaan air.
Jika tidak segera mendapat pertolongan, korban dapat kelelahan, kehilangan kesadaran, dan mengalami kekurangan oksigen.
Ketika melihat seseorang tenggelam, segera panggil bantuan medis, penjaga pantai, petugas kolam renang, atau orang lain yang memiliki kemampuan memberikan pertolongan.
Jika mampu dan situasinya aman, korban dapat dibantu keluar dari air, tetapi orang yang tidak memiliki kemampuan berenang atau bukan perenang kuat sebaiknya tidak masuk ke air untuk menyelamatkan korban.
Jika korban masih sadar dan meminta pertolongan, benda yang dapat mengapung seperti pelampung atau tali dapat dilemparkan agar korban dapat meraihnya.
Setelah korban berhasil dipindahkan ke daratan, kondisi kesadaran dan pernapasannya perlu segera diperiksa.
Jika korban tidak sadar dan tidak bernapas normal, diperlukan pertolongan medis segera dan resusitasi jantung paru atau CPR oleh orang yang terlatih.
Korban yang berhasil diselamatkan juga tetap dapat mengalami komplikasi akibat kekurangan oksigen, tergantung pada kondisi dan lamanya kejadian.
Komplikasi yang dapat terjadi antara lain edema paru, pneumonia, gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit, gagal jantung, stroke, kerusakan otak, hingga gangguan intelektual pada anak.
Pencegahan menjadi langkah penting untuk mengurangi risiko tenggelam.
Kemampuan berenang dasar perlu dikuasai, sementara anak-anak harus selalu diawasi ketika berada di sekitar air.
Penggunaan alat keselamatan seperti jaket pelampung juga penting, terutama ketika berada di perairan dalam atau wilayah dengan arus kuat.
Hindari konsumsi alkohol atau obat-obatan yang dapat mengganggu koordinasi sebelum berenang dan pahami kondisi perairan, termasuk arus, kedalaman, serta suhu air.
Selain itu, hindari mengemudikan kendaraan melewati jalan yang sedang tergenang banjir karena kondisi tersebut juga dapat membahayakan keselamatan.









