JAKARTA, Cobisnis.com – Harga minyak mentah kembali melonjak pada perdagangan awal sesi Asia, Senin, 28 September 2026. Kenaikan terjadi setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menolak proposal damai Iran yang berkaitan dengan pembukaan kembali Selat Hormuz.
Pada pukul 09.45 WIB, harga minyak mentah Brent untuk kontrak pengiriman November 2026 naik 2% menjadi US$106,4 per barel. Harga tersebut kembali bertahan di atas level US$106 per barel di tengah tingginya ketidakpastian geopolitik.
Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate atau WTI untuk kontrak pengiriman November 2026 naik 1,16% menjadi US$93,48 per barel. Kenaikan kedua acuan tersebut menunjukkan pasar masih merespons risiko gangguan pasokan energi dari Timur Tengah.
Iran sebelumnya mengumumkan proposal perdamaian dalam Sidang Umum PBB di New York. Proposal tersebut disebut telah disampaikan kepada Amerika Serikat melalui mediator Qatar.
Trump pada Sabtu menyatakan menolak rencana tersebut. Namun, dalam wawancara dengan Axios pada Minggu, Trump mengatakan negosiator AS diperkirakan akan kembali terlibat dalam pembicaraan lebih lanjut pekan ini.
Analis ANZ menilai risiko geopolitik masih tinggi. Mereka menyebut serangan Houthi dan Iran terhadap Arab Saudi membuat arus pasokan minyak regional tetap rentan.
Koalisi pimpinan Saudi di Yaman pada Sabtu juga menyatakan telah mencegat dua rudal balistik dan dua drone yang diluncurkan Houthi menuju wilayah kerajaan tersebut. Situasi ini membuat kekhawatiran terhadap keamanan pasokan energi kawasan kembali meningkat.
Pada pekan lalu, harga Brent sebenarnya hanya naik tipis 0,4%, sedangkan WTI turun 7,9%. Pasar saat itu dibayangi kekhawatiran bahwa Amerika Serikat dapat membatasi ekspor diesel untuk meredam kenaikan harga bahan bakar domestik.
Analis ANZ menyebut produk minyak olahan masih menjadi titik tekanan. Harga diesel AS yang mencapai rekor tertinggi dinilai meningkatkan risiko inflasi dan memunculkan kembali perdebatan mengenai kemungkinan pembatasan ekspor.
Pembatasan ekspor diesel AS berpotensi memperketat pasokan di luar negeri. Harga di Eropa juga dapat ikut terdampak jika pasokan dari Amerika Serikat berkurang.
Di sisi lain, ekspor minyak mentah dari produsen utama Timur Tengah meningkat menjadi 12,8 juta barel per hari pada September. Data awal Kpler menunjukkan angka tersebut merupakan yang tertinggi sejak perang dimulai pada Februari.
Peningkatan ekspor terjadi seiring pulihnya pengiriman melalui Selat Hormuz. Arus minyak melalui jalur tersebut diperkirakan mencapai sekitar 7,4 juta barel per hari pada September, setelah Arab Saudi dan Uni Emirat Arab meningkatkan ekspor.













