JAKARTA, Cobisnis.com – Memaksa anak makan atau force feeding ternyata jauh lebih berbahaya dari yang selama ini banyak orang tua bayangkan. Praktik ini bukan hanya membuat anak rewel saat makan, tetapi juga dapat merusak sistem tubuh dan memicu trauma makan dalam jangka panjang.
Dokter spesialis anak Miza Afrizal Azwir, Sp.A, BMedSci, MKes, menegaskan bahwa pemaksaan fisik saat makan bukan solusi untuk mengatasi gerakan tutup mulut atau GTM pada balita. Menurutnya, tindakan tersebut justru mengganggu respons alami tubuh anak terhadap rasa lapar.
Saat anak dipaksa makan dalam kondisi menangis dan tertekan, hormon stres kortisol akan meningkat. Akibatnya, anak mulai melihat makanan bukan sebagai sesuatu yang menyenangkan, melainkan sebagai ancaman yang harus dihindari.
Lonjakan kortisol yang terjadi berulang kali juga berdampak pada sistem kekebalan tubuh. Dokter Miza menjelaskan bahwa hormon stres ini dapat melemahkan kerja sistem imun sehingga anak menjadi lebih rentan terserang penyakit.
Tak hanya itu, organ pencernaan juga ikut terdampak. Saat anak makan dalam kondisi stres, otot di area perut mengalami kontraksi yang membuat penyerapan nutrisi tidak optimal. Kadar stres yang tinggi juga dapat mengganggu keseimbangan bakteri baik di saluran pencernaan.
Dokter Miza mengibaratkan kondisi tersebut seperti seorang karyawan yang setiap hari mengalami perundungan di tempat kerja. Lama-kelamaan, orang itu akan merasa enggan datang ke kantor. Hal serupa terjadi pada balita ketika makanan terus dikaitkan dengan tekanan dan ketakutan.
Otak anak akan merekam pengalaman buruk saat makan dengan sangat kuat. Karena itu, orang tua disarankan menciptakan suasana makan yang aman dan menyenangkan tanpa paksaan. Jika GTM terus berlanjut, konsultasi dengan tenaga medis diperlukan untuk mencari penyebab dan menentukan penanganan yang tepat. Pernyataan ini disampaikan dokter Miza dalam acara LACTOGROW Digestion Expert Lab di Mal Kota Kasablanka, Jakarta Selatan, Jumat, 5 Juni 2026.













