JAKARTA, Cobisnis.com – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi kondisi iklim Indonesia akan kembali normal mulai April 2026. Fenomena La Nina lemah yang masih terjadi saat ini diperkirakan terus melemah dan tidak berkembang menjadi La Nina kuat.
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menjelaskan bahwa pemantauan La Nina dilakukan melalui indeks Nino 3.4 di Samudra Pasifik. Berdasarkan prakiraan iklim terbaru, La Nina diperkirakan melemah hingga Maret 2026.
“Setelah itu, mulai April sampai akhir tahun, kondisi iklim cenderung normal. Tidak ada El Nino maupun La Nina,” ujar Faisal usai rapat bersama Komisi V DPR RI di kompleks parlemen, Senayan, Rabu (28/1/2026).
BMKG menilai kondisi iklim netral tersebut berpotensi mendukung peningkatan produktivitas pertanian dan ketahanan pangan nasional. Sementara itu, proyeksi iklim untuk tahun berikutnya masih menunggu kajian lanjutan dari Kedeputian Klimatologi BMKG, termasuk kemungkinan munculnya El Nino pada 2027 yang dapat memperpanjang musim kemarau.
Untuk wilayah Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara, BMKG memprediksi musim hujan berakhir pada Februari hingga Maret 2026, kemudian musim kemarau dimulai April dan berlangsung hingga September. Musim hujan diperkirakan kembali datang pada Oktober.
Berbeda dengan wilayah selatan Indonesia, kawasan Aceh, Sumatera Utara, Riau, hingga Sumatera Barat memiliki karakteristik iklim ekuatorial. Wilayah ini mengalami dua kali musim hujan dan dua kali musim kemarau dalam setahun. Saat ini, wilayah tersebut mulai memasuki musim kemarau pertama, meski dengan kondisi yang tidak terlalu kering.
Meski demikian, BMKG mengingatkan potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tetap perlu diwaspadai. Hujan diperkirakan kembali turun pada Mei–Juni, sebelum wilayah tersebut memasuki periode kemarau berikutnya.
“Karakteristik iklim di wilayah dekat ekuator memang berbeda dengan wilayah selatan seperti Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara,” tutup Faisal.














