JAKARTA, Cobisnis.com – Kepercayaan diri petenis Amerika Serikat Coco Gauff runtuh setelah ia tersingkir secara mengejutkan di perempat final Australian Open 2026. Harapan Gauff untuk meraih gelar Australian Open pertamanya pupus hanya dalam waktu 59 menit usai dikalahkan petenis Ukraina, Elina Svitolina, dalam dua set langsung.
Gauff yang tampil impresif sepanjang turnamen sebelumnya justru gagal menemukan permainan terbaiknya saat menghadapi Svitolina di Rod Laver Arena, Selasa (waktu setempat). Dalam kondisi cuaca panas menyengat, petenis peringkat tiga dunia itu kalah telak dengan skor 1-6, 2-6.
Kekalahan tersebut membuat Svitolina melaju ke semifinal dan dijadwalkan menghadapi petenis nomor satu dunia, Aryna Sabalenka. Sementara itu, Gauff terlihat sangat frustrasi usai pertandingan dan terekam kamera memecahkan raketnya di area lorong beton stadion momen yang ia kira tidak akan disiarkan.
“Saya mencoba mencari tempat yang saya kira tidak ada kamera karena saya sebenarnya tidak suka memecahkan raket,” ujar Gauff kepada wartawan. “Saya pikir itu area pribadi, tapi ternyata tetap terekam.”
Gauff menjelaskan bahwa turnamen besar seperti Australian Open nyaris tidak menyediakan ruang privat bagi pemain, selain ruang ganti. Frustrasi tersebut sebagian besar dipicu oleh performa servisnya yang buruk di set pertama, di mana ia mencatatkan lima double fault dan kehilangan empat gim servis.
Meski servisnya membaik di set kedua, petenis berusia 21 tahun itu tetap melakukan 12 unforced error yang memupus peluang bangkit. Ia mengakui hampir semua aspek permainannya tidak berjalan dengan baik.
“Saya merasa semua hal yang biasanya saya kuasai tidak berfungsi hari ini backhand, forehand, return,” kata Gauff. “Tapi itu juga karena dia memaksa saya bermain seperti itu. Kredit penuh untuknya.”
Gauff menegaskan ia tidak menyesali aksinya memecahkan raket, karena itu menjadi cara untuk meluapkan emosi tanpa melampiaskannya kepada tim pelatihnya.
“Saya tidak ingin melampiaskan emosi ke tim saya. Mereka orang-orang baik dan tidak pantas diperlakukan seperti itu,” ujarnya. “Saya hanya butuh satu menit untuk meluapkan frustrasi. Kalau tidak, saya bisa menjadi kasar pada orang-orang sekitar saya.”














