JAKARTA, Cobisnis.com – Militer Amerika Serikat akan menggelar latihan udara selama beberapa hari di kawasan Timur Tengah seiring Washington memperkuat kehadiran militernya di wilayah tersebut di tengah meningkatnya ketegangan dengan Iran.
Latihan ini bertujuan untuk menguji kesiapan personel udara AS dalam menghadapi kondisi operasi yang berat. “Latihan ini memungkinkan para penerbang membuktikan bahwa mereka dapat menyebar, beroperasi, dan menghasilkan misi tempur dalam kondisi menantang dengan aman, presisi, serta bersama mitra kami,” demikian pernyataan Letnan Jenderal Derek France, Komandan AFCENT Komando Pusat AS (CENTCOM).
Pengumuman ini muncul setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump memperingatkan bahwa sebuah “armada” tengah bergerak menuju Iran dan mengancam kemungkinan aksi militer terhadap rezim Teheran, yang dituduh melakukan penindasan brutal terhadap gelombang protes anti-pemerintah.
Kelompok tempur kapal induk USS Abraham Lincoln dilaporkan telah tiba di kawasan tersebut, menurut pernyataan CENTCOM pada Senin. Meski demikian, Trump disebut masih mempertimbangkan berbagai opsi terkait langkah AS terhadap Iran, dan hingga kini belum ada keputusan final mengenai tindakan militer, menurut sejumlah sumber.
“Kami mengerahkan banyak kapal ke arah sana, untuk berjaga-jaga. Saya tentu lebih memilih tidak terjadi apa-apa, tapi kami mengawasi mereka dengan sangat ketat,” ujar Trump pada Jumat lalu.
CENTCOM tidak merinci lokasi maupun durasi latihan, serta aset militer apa saja yang akan dilibatkan. Ketegangan antara AS dan Iran sendiri meningkat tajam dalam beberapa pekan terakhir, menyusul penindasan berdarah terhadap demonstrasi di Iran.
Menurut laporan Human Rights Activists News Agency (HRANA) yang berbasis di AS, lebih dari 5.800 demonstran dilaporkan tewas sejak aksi protes dimulai akhir bulan lalu, dengan ribuan kematian lainnya masih dalam proses verifikasi. Angka tersebut belum dapat diverifikasi secara independen, meski pemerintah Iran mengakui ribuan korban jiwa.
Trump telah memperingatkan Iran agar menghentikan pembunuhan terhadap para demonstran dan berulang kali mengancam akan turun tangan jika Teheran tidak mengubah sikap. Namun pekan lalu, Trump juga menyebut Iran “ingin berbicara”, membuka peluang solusi diplomatik. Pemerintah AS kembali menegaskan kesiapannya untuk berdialog jika Iran memahami syarat-syaratnya.
Di sisi lain, Iran meningkatkan retorika keras terhadap AS. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menegaskan bahwa setiap serangan akan dibalas dengan kekuatan yang berpotensi mengguncang stabilitas Timur Tengah.
“Kedatangan satu atau beberapa kapal perang tidak akan memengaruhi tekad pertahanan Iran,” ujarnya. “Angkatan bersenjata kami memantau setiap perkembangan dan terus meningkatkan kemampuan mereka.”
Di Teheran, poster raksasa di Lapangan Enghelab memperlihatkan ancaman penghancuran kapal induk AS, sementara poster lain menampilkan penangkapan kapal Angkatan Laut AS pada 2016, sebagai bentuk pesan simbolis terhadap Washington.
Latihan kesiapsiagaan ini dilakukan dengan persetujuan negara tuan rumah dan koordinasi ketat dengan otoritas penerbangan sipil dan militer, dengan tetap menghormati kedaulatan masing-masing negara.
Sejumlah negara di kawasan, termasuk Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA), telah menegaskan tidak akan mengizinkan wilayah udaranya digunakan untuk aksi militer terhadap Iran. UEA juga menyatakan tidak akan memberikan dukungan logistik untuk operasi militer apa pun terhadap Teheran.














