JAKARTA, Cobisnis.com – Banyak orang sudah berusaha keras menurunkan berat badan dengan mengurangi porsi makan, bahkan sampai memilih untuk tidak mengonsumsi nasi. Namun hasilnya sering tidak sesuai harapan karena berat badan tetap stagnan.
Spesialis gizi klinik dr M Ingrid Budiman, SpGK, AIFO-K, menilai kondisi tersebut kerap terjadi akibat pola diet yang terlalu ekstrem sejak awal. Tanpa disadari, tubuh justru bereaksi dengan cara yang berlawanan.
Menurut dr Ingrid, beberapa orang langsung membatasi jenis makanan secara drastis, seperti hanya mengonsumsi sayur atau putih telur setiap hari. Pola ini membuat asupan energi dan gizi menjadi tidak seimbang.
Diet yang terlalu ketat berisiko memicu rasa lapar berlebih. Ketika lapar muncul, tubuh cenderung mencari sumber energi cepat dari camilan tanpa perhitungan kalori yang jelas.
Ia menyoroti kebiasaan jajan sebagai salah satu penyebab utama berat badan sulit turun. Minuman kopi dengan gula, sirup, atau whipped cream sering dianggap sepele, padahal kalorinya cukup tinggi.
Dalam satu kali konsumsi, pastry bisa setara dengan 2,5 hingga 3 porsi nasi. Bahkan kopi ukuran kecil dengan tambahan gula dan krimer bisa menyumbang 1 hingga 2 porsi nasi.
Kondisi ini membuat asupan kalori justru lebih besar dibandingkan makan utama yang lengkap. Masalahnya, konsumsi tersebut sering tidak disadari sebagai bagian dari pola makan harian.
Dr Ingrid menekankan bahwa kesalahan ini umum terjadi pada masyarakat perkotaan dengan aktivitas tinggi. Waktu makan yang tidak teratur mendorong kebiasaan ngemil sebagai pengganjal lapar.
Ia menyarankan agar diet tetap dilakukan secara bertahap dan seimbang. Karbohidrat tidak perlu dihilangkan sepenuhnya, melainkan dikurangi secara perlahan.
Pola makan ideal tetap mencakup karbohidrat, protein, dan serat. Pendekatan ini dinilai lebih aman, realistis, dan berkelanjutan dalam menjaga berat badan.
Menurutnya, diet ekstrem justru meningkatkan risiko “balas dendam” makan di kemudian hari. Ketika kontrol dilepas, porsi konsumsi bisa melonjak tanpa disadari.
Edukasi pola makan seimbang dinilai lebih efektif dibandingkan sekadar menghilangkan jenis makanan tertentu. Dengan cara ini, penurunan berat badan dapat berlangsung lebih stabil.













