JAKARTA, Cobisnis.com – Makan malam selama ini sering dianggap sebagai kebiasaan yang harus dihindari, terutama oleh mereka yang ingin menjaga berat badan. Anggapan ini berkembang luas di masyarakat dan kerap dikaitkan dengan jam makan tertentu.
Padahal, dokter spesialis gizi klinik menegaskan bahwa dampak makan malam terhadap berat badan tidak bisa dinilai hanya dari angka di jam. Faktor lain justru jauh lebih menentukan dalam menjaga keseimbangan metabolisme tubuh.
Spesialis gizi klinik dr M Ingrid Budiman, SpGK, AIFO-K, menyampaikan bahwa patokan makan malam seharusnya dilihat dari jaraknya dengan waktu tidur, bukan sekadar jam makan yang kaku.
Menurutnya, tubuh membutuhkan waktu untuk mencerna makanan sebelum beristirahat. Jika jarak antara makan dan tidur terlalu dekat, proses pencernaan bisa terganggu dan berdampak pada pengelolaan energi.
“Patokan utamanya itu tidak kurang dari dua jam sebelum tidur,” ujar dr Ingrid saat berbincang di program detikSore, Jumat (2/1/2026).
Ia menjelaskan bahwa makan malam tetap diperbolehkan selama dilakukan dengan jarak waktu yang cukup dan tidak berlebihan. Pola ini dinilai lebih realistis dibandingkan melarang makan malam sama sekali.
Selain waktu, jenis makanan yang dikonsumsi pada malam hari justru memiliki peran yang lebih besar. Komposisi makanan yang tidak seimbang dapat meningkatkan risiko penumpukan kalori.
“Jangan sampai selesai makan jam enam, tapi yang dimakan justru makanan manis atau tinggi lemak,” jelasnya.
Makanan seperti gorengan, martabak, atau camilan manis dinilai kurang ideal untuk dikonsumsi pada malam hari karena kandungan kalorinya tinggi dan sulit dibakar saat aktivitas tubuh menurun.
Sebaliknya, makan malam dengan porsi wajar dan komposisi seimbang tetap bisa membantu tubuh memenuhi kebutuhan nutrisi tanpa memicu kenaikan berat badan.
Pandangan ini juga relevan dengan gaya hidup masyarakat perkotaan yang memiliki jam aktivitas panjang. Melarang makan malam dinilai justru bisa memicu makan berlebihan di waktu lain.
Dokter gizi menilai edukasi soal pola makan yang tepat lebih penting dibandingkan sekadar membatasi jam makan. Pendekatan ini dinilai lebih berkelanjutan untuk menjaga kesehatan jangka panjang.













