• © Copyright 2025 Cobinis.com – All Right Reserved
Wednesday, April 1, 2026
Cobisnis
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Ekonomi Bisnis
  • Nasional
  • Lifestyle
  • Entertaiment
  • Humaniora
  • Sport
  • Teknologi
  • Otomotif
  • Foto
  • Beranda
  • Ekonomi Bisnis
  • Nasional
  • Lifestyle
  • Entertaiment
  • Humaniora
  • Sport
  • Teknologi
  • Otomotif
  • Foto
No Result
View All Result
Cobisnis
No Result
View All Result
Home Teknologi

Dampak AI Dalam Rekrutmen, Perusahaan dan Pencari Kerja Sama-sama Menderita

Zahra Zahwa by Zahra Zahwa
December 22, 2025
in Teknologi
0
Dampak AI Dalam Rekrutmen, Perusahaan dan Pencari Kerja Sama-sama Menderita

JAKARTA, Cobisnis.com – Penggunaan kecerdasan buatan (AI) dalam proses rekrutmen kini bukan lagi wacana, melainkan realitas. Namun, alih-alih mempermudah, kehadiran AI justru membuat perusahaan dan pencari kerja sama-sama frustrasi.

Di tengah perlambatan pasar tenaga kerja Amerika Serikat, wawancara berbasis AI dan surat lamaran yang dihasilkan secara otomatis telah mengubah secara drastis cara orang mendapatkan pekerjaan dan belum tentu ke arah yang lebih baik.

Lebih dari setengah organisasi yang disurvei oleh Society for Human Resource Management mengaku menggunakan AI untuk merekrut karyawan pada 2025. Sementara itu, sekitar sepertiga pengguna ChatGPT dilaporkan memanfaatkan chatbot OpenAI tersebut untuk membantu pencarian kerja mereka.

Namun, riset terbaru menunjukkan paradoks yang mencolok: ketika pencari kerja menggunakan AI dalam proses lamaran, peluang mereka untuk diterima justru menurun. Di sisi lain, perusahaan kini harus menghadapi lonjakan jumlah pelamar.

“Kemampuan perusahaan untuk memilih pekerja terbaik saat ini bisa jadi justru memburuk karena AI,” kata Anaïs Galdin, peneliti Dartmouth yang ikut menulis studi tentang dampak large language model (LLM) terhadap surat lamaran.

Galdin bersama rekan penelitinya, Jesse Silbert dari Princeton, menganalisis puluhan ribu surat lamaran di Freelancer.com. Hasilnya, sejak ChatGPT diperkenalkan pada 2022, surat lamaran menjadi lebih panjang dan lebih rapi secara bahasa. Namun, perusahaan justru semakin tidak menganggap surat tersebut sebagai faktor penting. Akibatnya, semakin sulit membedakan kandidat yang benar-benar berkualitas, tingkat perekrutan menurun, dan rata-rata gaji awal ikut turun.

“Jika kita tidak melakukan apa pun untuk memperbaiki aliran informasi antara pekerja dan perusahaan, maka hasilnya bisa seperti ini,” ujar Silbert.

Dengan jumlah lamaran yang membengkak, banyak perusahaan kemudian mengotomatisasi proses wawancara. Sebanyak 54% pencari kerja di AS yang disurvei oleh perusahaan perangkat lunak rekrutmen Greenhouse pada Oktober lalu mengaku pernah menjalani wawancara yang dipimpin AI.

Wawancara virtual memang melonjak sejak pandemi 2020. Kini, AI sering digunakan untuk mengajukan pertanyaan. Namun, subjektivitas belum benar-benar hilang.

“Algoritma bisa meniru bahkan memperbesar bias manusia,” kata Djurre Holtrop, peneliti yang mengkaji penggunaan wawancara video asinkron dan AI dalam perekrutan.

Daniel Chait, CEO Greenhouse, memperingatkan bahwa penggunaan AI oleh kedua belah pihak pelamar yang mengirim ratusan lamaran otomatis dan perusahaan yang membalas dengan sistem otomatis menciptakan “lingkaran kehancuran” yang membuat semua pihak sengsara.

“Kedua sisi sama-sama berkata, ‘Ini tidak mungkin, ini tidak bekerja, semuanya makin buruk.”

Gelombang Penolakan

Meski perusahaan terus mengadopsi teknologi ini dengan pasar teknologi rekrutmen diperkirakan mencapai US$3,1 miliar tahun ini penolakan mulai bermunculan. Legislator negara bagian, serikat pekerja, hingga individu mulai khawatir AI akan mendiskriminasi pekerja.

Presiden AFL-CIO Liz Shuler menyebut penggunaan AI dalam perekrutan sebagai “tidak dapat diterima.”

“Sistem AI merampas kesempatan kerja dari orang-orang yang sebenarnya memenuhi syarat, hanya berdasarkan kriteria sewenang-wenang seperti nama, kode pos, atau bahkan seberapa sering mereka tersenyum,” katanya.

Sejumlah negara bagian seperti California, Colorado, dan Illinois kini menyusun regulasi untuk mengatur penggunaan AI dalam perekrutan. Namun, perintah eksekutif Presiden Donald Trump baru-baru ini berpotensi melemahkan regulasi tingkat negara bagian dan menambah ketidakpastian hukum.

Meski begitu, hukum anti-diskriminasi tetap berlaku, bahkan jika perusahaan menggunakan AI. Gugatan pun mulai bermunculan, termasuk kasus seorang perempuan tunarungu yang menggugat perusahaan rekrutmen AI HireVue karena wawancara otomatis yang dinilai tidak memenuhi standar aksesibilitas.

HireVue membantah tuduhan tersebut dan menyatakan teknologinya justru dirancang untuk mengurangi bias.

Sentuhan Manusia Yang Hilang

Meski AI dinilai mampu membuka peluang baru bagi kandidat yang sebelumnya terlewatkan, mereka yang menghargai “sentuhan manusia” dalam perekrutan merasa kehilangan.

Jared Looper, manajer proyek IT di Utah, menceritakan pengalamannya diwawancarai oleh perekrut berbasis AI. Ia menyebut pengalaman itu terasa “dingin,” bahkan sempat menutup panggilan saat pertama kali dihubungi sistem tersebut.

Looper kini khawatir banyak orang belum siap menghadapi proses rekrutmen baru, di mana kemampuan “menyenangkan AI” menjadi keterampilan penting.

“Banyak orang hebat akan tertinggal,” ujarnya.

Tags: AIRecruitmentcobisnis.comKecerdasanBuatanTeknologiHR

Related Posts

Warga Terlihat Panik, Isu BBM Naik Picu Antrean di Sejumlah SPBU

Warga Terlihat Panik, Isu BBM Naik Picu Antrean di Sejumlah SPBU

by Hidayat Taufik
March 31, 2026
0

JAKARTA, Cobisnis.com – Isu kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) yang beredar di masyarakat memicu kepanikan warga di sejumlah wilayah...

Mulai April 2026, Perjalanan Dinas ASN Dibatasi: Luar Negeri 70%, Dalam Negeri 50%

Mulai April 2026, Perjalanan Dinas ASN Dibatasi: Luar Negeri 70%, Dalam Negeri 50%

by Hidayat Taufik
March 31, 2026
0

JAKARTA, Cobisnis.com – Pemerintah Indonesia resmi memberlakukan kebijakan efisiensi bagi aparatur sipil negara (ASN) mulai 1 April 2026. Kebijakan ini...

Ranking FIFA Timnas Indonesia Usai Kalah dari Bulgaria di Final FIFA Series 2026

Ranking FIFA Timnas Indonesia Usai Kalah dari Bulgaria di Final FIFA Series 2026

by Hidayat Taufik
March 31, 2026
0

JAKARTA, Cobisnis.com - Timnas Indonesia harus mengakui keunggulan Bulgaria setelah kalah 0-1 pada final FIFA Series 2026. Laga tersebut berlangsung...

Biaya Haji 2026 Berpotensi Naik, DPR Minta Pemerintah Tidak Bebani Jemaah

Biaya Haji 2026 Berpotensi Naik, DPR Minta Pemerintah Tidak Bebani Jemaah

by Hidayat Taufik
March 31, 2026
0

JAKARTA, Cobisnis.com - Ketua Komisi VIII DPR RI, Marwan Dasopang, menyatakan bahwa secara umum persiapan penyelenggaraan ibadah haji 2026 berjalan...

Panduan Istilah Misi Artemis II Sebelum Peluncuran ke Bulan

Panduan Istilah Misi Artemis II Sebelum Peluncuran ke Bulan

by Zahra Zahwa
March 31, 2026
0

JAKARTA, Cobisnis.com – Misi Artemis II akan membawa empat astronaut mengitari bulan dalam perjalanan selama 10 hari. Karena itu, banyak...

Load More
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Ini Daftar Tarif  Listrik Per 1 April 2026 Cek Rincian Terbaru

Ini Daftar Tarif Listrik Per 1 April 2026 Cek Rincian Terbaru

March 31, 2026
Harga BBM Subsidi Tetap per 1 April 2026, Nasib Pertamax Masih Ditahan Pemerintah

Harga BBM Subsidi Tetap per 1 April 2026, Nasib Pertamax Masih Ditahan Pemerintah

March 31, 2026
Furab Jadi Tren di Media Sosial, Ini Arti dan Asal-usulnya

Furab Jadi Tren di Media Sosial, Ini Arti dan Asal-usulnya

March 31, 2026
Konflik Memanas AS Hantam Isfahan Iran Balas Serang Kapal Minyak Bernilai Triliunan

Konflik Memanas AS Hantam Isfahan Iran Balas Serang Kapal Minyak Bernilai Triliunan

March 31, 2026
Warga Terlihat Panik, Isu BBM Naik Picu Antrean di Sejumlah SPBU

Warga Terlihat Panik, Isu BBM Naik Picu Antrean di Sejumlah SPBU

March 31, 2026
AS Mulai Kewalahan Hadapi Iran, Biaya Perang Tembus Rp95 Triliun dalam 2 Hari

AS Mulai Kewalahan Hadapi Iran, Biaya Perang Tembus Rp95 Triliun dalam 2 Hari

March 31, 2026
Harga BBM Subsidi Tetap per 1 April 2026, Nasib Pertamax Masih Ditahan Pemerintah

Harga BBM Subsidi Tetap per 1 April 2026, Nasib Pertamax Masih Ditahan Pemerintah

March 31, 2026
Mulai April 2026, Perjalanan Dinas ASN Dibatasi: Luar Negeri 70%, Dalam Negeri 50%

Mulai April 2026, Perjalanan Dinas ASN Dibatasi: Luar Negeri 70%, Dalam Negeri 50%

March 31, 2026
">
  • Redaksi
  • Profil
  • Media Kit
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Cyber
  • Kontak

© Copyright 2025 Cobinis.com - All Right Reserved

No Result
View All Result
  • Home
  • Ekonomi & Bisnis
  • Nasional
  • Industri
  • Lifestyle
  • Humaniora
  • Kesehatan & Olahraga
  • Startup Center
  • Foto
  • Youtube

© Copyright 2025 Cobinis.com - All Right Reserved