• © Copyright 2025 Cobinis.com – All Right Reserved
Wednesday, July 22, 2026
Cobisnis
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Ekonomi Bisnis
  • Nasional
  • Lifestyle
  • Entertaiment
  • Humaniora
  • Sport
  • Teknologi
  • Otomotif
  • Foto
  • Beranda
  • Ekonomi Bisnis
  • Nasional
  • Lifestyle
  • Entertaiment
  • Humaniora
  • Sport
  • Teknologi
  • Otomotif
  • Foto
No Result
View All Result
Cobisnis
No Result
View All Result
Home Teknologi

Dampak AI Dalam Rekrutmen, Perusahaan dan Pencari Kerja Sama-sama Menderita

Zahra Zahwa by Zahra Zahwa
December 22, 2025
in Teknologi
0
Dampak AI Dalam Rekrutmen, Perusahaan dan Pencari Kerja Sama-sama Menderita

JAKARTA, Cobisnis.com – Penggunaan kecerdasan buatan (AI) dalam proses rekrutmen kini bukan lagi wacana, melainkan realitas. Namun, alih-alih mempermudah, kehadiran AI justru membuat perusahaan dan pencari kerja sama-sama frustrasi.

Di tengah perlambatan pasar tenaga kerja Amerika Serikat, wawancara berbasis AI dan surat lamaran yang dihasilkan secara otomatis telah mengubah secara drastis cara orang mendapatkan pekerjaan dan belum tentu ke arah yang lebih baik.

Lebih dari setengah organisasi yang disurvei oleh Society for Human Resource Management mengaku menggunakan AI untuk merekrut karyawan pada 2025. Sementara itu, sekitar sepertiga pengguna ChatGPT dilaporkan memanfaatkan chatbot OpenAI tersebut untuk membantu pencarian kerja mereka.

Namun, riset terbaru menunjukkan paradoks yang mencolok: ketika pencari kerja menggunakan AI dalam proses lamaran, peluang mereka untuk diterima justru menurun. Di sisi lain, perusahaan kini harus menghadapi lonjakan jumlah pelamar.

“Kemampuan perusahaan untuk memilih pekerja terbaik saat ini bisa jadi justru memburuk karena AI,” kata Anaïs Galdin, peneliti Dartmouth yang ikut menulis studi tentang dampak large language model (LLM) terhadap surat lamaran.

Galdin bersama rekan penelitinya, Jesse Silbert dari Princeton, menganalisis puluhan ribu surat lamaran di Freelancer.com. Hasilnya, sejak ChatGPT diperkenalkan pada 2022, surat lamaran menjadi lebih panjang dan lebih rapi secara bahasa. Namun, perusahaan justru semakin tidak menganggap surat tersebut sebagai faktor penting. Akibatnya, semakin sulit membedakan kandidat yang benar-benar berkualitas, tingkat perekrutan menurun, dan rata-rata gaji awal ikut turun.

“Jika kita tidak melakukan apa pun untuk memperbaiki aliran informasi antara pekerja dan perusahaan, maka hasilnya bisa seperti ini,” ujar Silbert.

Dengan jumlah lamaran yang membengkak, banyak perusahaan kemudian mengotomatisasi proses wawancara. Sebanyak 54% pencari kerja di AS yang disurvei oleh perusahaan perangkat lunak rekrutmen Greenhouse pada Oktober lalu mengaku pernah menjalani wawancara yang dipimpin AI.

Wawancara virtual memang melonjak sejak pandemi 2020. Kini, AI sering digunakan untuk mengajukan pertanyaan. Namun, subjektivitas belum benar-benar hilang.

“Algoritma bisa meniru bahkan memperbesar bias manusia,” kata Djurre Holtrop, peneliti yang mengkaji penggunaan wawancara video asinkron dan AI dalam perekrutan.

Daniel Chait, CEO Greenhouse, memperingatkan bahwa penggunaan AI oleh kedua belah pihak pelamar yang mengirim ratusan lamaran otomatis dan perusahaan yang membalas dengan sistem otomatis menciptakan “lingkaran kehancuran” yang membuat semua pihak sengsara.

“Kedua sisi sama-sama berkata, ‘Ini tidak mungkin, ini tidak bekerja, semuanya makin buruk.”

Gelombang Penolakan

Meski perusahaan terus mengadopsi teknologi ini dengan pasar teknologi rekrutmen diperkirakan mencapai US$3,1 miliar tahun ini penolakan mulai bermunculan. Legislator negara bagian, serikat pekerja, hingga individu mulai khawatir AI akan mendiskriminasi pekerja.

Presiden AFL-CIO Liz Shuler menyebut penggunaan AI dalam perekrutan sebagai “tidak dapat diterima.”

“Sistem AI merampas kesempatan kerja dari orang-orang yang sebenarnya memenuhi syarat, hanya berdasarkan kriteria sewenang-wenang seperti nama, kode pos, atau bahkan seberapa sering mereka tersenyum,” katanya.

Sejumlah negara bagian seperti California, Colorado, dan Illinois kini menyusun regulasi untuk mengatur penggunaan AI dalam perekrutan. Namun, perintah eksekutif Presiden Donald Trump baru-baru ini berpotensi melemahkan regulasi tingkat negara bagian dan menambah ketidakpastian hukum.

Meski begitu, hukum anti-diskriminasi tetap berlaku, bahkan jika perusahaan menggunakan AI. Gugatan pun mulai bermunculan, termasuk kasus seorang perempuan tunarungu yang menggugat perusahaan rekrutmen AI HireVue karena wawancara otomatis yang dinilai tidak memenuhi standar aksesibilitas.

HireVue membantah tuduhan tersebut dan menyatakan teknologinya justru dirancang untuk mengurangi bias.

Sentuhan Manusia Yang Hilang

Meski AI dinilai mampu membuka peluang baru bagi kandidat yang sebelumnya terlewatkan, mereka yang menghargai “sentuhan manusia” dalam perekrutan merasa kehilangan.

Jared Looper, manajer proyek IT di Utah, menceritakan pengalamannya diwawancarai oleh perekrut berbasis AI. Ia menyebut pengalaman itu terasa “dingin,” bahkan sempat menutup panggilan saat pertama kali dihubungi sistem tersebut.

Looper kini khawatir banyak orang belum siap menghadapi proses rekrutmen baru, di mana kemampuan “menyenangkan AI” menjadi keterampilan penting.

“Banyak orang hebat akan tertinggal,” ujarnya.

Tags: AIRecruitmentcobisnis.comKecerdasanBuatanTeknologiHR

Related Posts

FMPSB-Sulteng Siap Kawal Implementasi Sawit Berkelanjutan di Sulawesi Tengah

FMPSB-Sulteng Siap Kawal Implementasi Sawit Berkelanjutan di Sulawesi Tengah

by Iwan Supriyatna
July 22, 2026
0

JAKARTA, Cobisnis.com - Forum Multi Pihak Sawit Berkelanjutan Sulawesi Tengah (FMPSB-Sulteng) resmi dideklarasikan pada Selasa (21/7/2026). Forum ini merupakan wadah...

Korea Selatan Makin Kaya di Tengah Krisis Global, Ini Penyebabnya

Korea Selatan Makin Kaya di Tengah Krisis Global, Ini Penyebabnya

by Desti Dwi Natasya
July 22, 2026
0

JAKARTA, Cobisnis.com – Jumlah individu dengan kekayaan tinggi di Korea Selatan terus bertambah meski dunia masih menghadapi berbagai tantangan ekonomi....

Kepala BGN Nanik Sudaryati Deyang Mundur, Ungkap Alasan Sebenarnya

Kepala BGN Nanik Sudaryati Deyang Mundur, Ungkap Alasan Sebenarnya

by Desti Dwi Natasya
July 22, 2026
0

JAKARTA, Cobisnis.com – Nanik Sudaryati Deyang resmi mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Kepala Badan Gizi Nasional (BGN). Keputusan tersebut diambil...

Mazraoui Ungkap Rencana Pensiun Setelah Piala Dunia 2026, Ingin Jadi Imam Masjid

Mazraoui Ungkap Rencana Pensiun Setelah Piala Dunia 2026, Ingin Jadi Imam Masjid

by Hidayat Taufik
July 22, 2026
0

JAKARTA, Cobisnis.com – Bek Timnas Maroko sekaligus pemain Manchester United, Noussair Mazraoui, mengisyaratkan akan mengakhiri karier sepak bolanya setelah Piala...

Pupuk Kaltim

Regenerasi Atlet Bulutangkis Berprestasi, Pupuk Kaltim Hadirkan Sirnas C Open 2026

by Iwan Supriyatna
July 22, 2026
0

JAKARTA, Cobisnis.com - PT Pupuk Kalimantan Timur (Pupuk Kaltim) kembali menggelar Kejuaraan Bulutangkis Sirkuit Nasional (Sirnas) C Pupuk Kaltim Open...

Load More
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Tokopedia dan TikTok Shop Bantu UMKM Yogyakarta Naik Kelas Lewat #JualanNyaman

Tokopedia dan TikTok Shop Bantu UMKM Yogyakarta Naik Kelas Lewat #JualanNyaman

July 21, 2026
Harga Pertamax Berpotensi Turun, Bahlil Tunggu Pergerakan Minyak Dunia

Harga Pertamax Berpotensi Turun, Bahlil Tunggu Pergerakan Minyak Dunia

July 21, 2026
BNI Dinobatkan Jadi Bank UMKM dan Trade Finance Terbaik Indonesia

BNI Dinobatkan Jadi Bank UMKM dan Trade Finance Terbaik Indonesia

July 21, 2026
XLSMART Gandeng Google, Beri Akses Google Gemini Gratis 6 Bulan

XLSMART Gandeng Google, Beri Akses Google Gemini Gratis 6 Bulan

July 21, 2026
Pemerintah Naikkan Biaya Bikin PT hingga 233% Mulai Agustus

Pemerintah Naikkan Biaya Bikin PT hingga 233% Mulai Agustus

July 22, 2026
FMPSB-Sulteng Siap Kawal Implementasi Sawit Berkelanjutan di Sulawesi Tengah

FMPSB-Sulteng Siap Kawal Implementasi Sawit Berkelanjutan di Sulawesi Tengah

July 22, 2026
Korea Selatan Makin Kaya di Tengah Krisis Global, Ini Penyebabnya

Korea Selatan Makin Kaya di Tengah Krisis Global, Ini Penyebabnya

July 22, 2026
Pemerintah Kerek Royalti Emas dan Nikel, Antam Langsung Hitung Ulang Ongkos Produksi

Harga Emas Antam Naik Lagi Jadi Rp 2,635 Juta, Ini Rincian Harga hingga 1 Kg

July 22, 2026
">
  • Redaksi
  • Profil
  • Media Kit
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Cyber
  • Kontak

© Copyright 2025 Cobinis.com - All Right Reserved

No Result
View All Result
  • Home
  • Ekonomi & Bisnis
  • Nasional
  • Industri
  • Lifestyle
  • Humaniora
  • Kesehatan & Olahraga
  • Startup Center
  • Foto
  • Youtube

© Copyright 2025 Cobinis.com - All Right Reserved