JAKARTA, Cobisnis.com — Kebiasaan mendengkur saat tidur kerap dikaitkan dengan kondisi tidur yang nyenyak. Namun, dengkuran yang terdengar keras atau terjadi terus-menerus bisa menjadi tanda adanya masalah pada saluran pernapasan.
Suara ngorok biasanya muncul ketika udara tidak dapat mengalir dengan lancar melalui saluran pernapasan. Hambatan tersebut membuat jaringan di sekitar jalur napas bergetar sehingga menghasilkan suara dengkuran. Kondisi ini juga dapat mengganggu kualitas tidur.
Penyebab Seseorang Mendengkur Saat Tidur
Dengkuran dapat terjadi karena otot-otot tubuh mengalami relaksasi ketika seseorang mulai tertidur. Kondisi tersebut juga terjadi pada otot di sekitar lidah dan tenggorokan.
Dokter Spesialis Neurologi, dr. Oktaviana Niken P., Sp.N., DAIFIDN., MMRS., FNR., AIFO-K, mengatakan posisi lidah dapat berubah ketika seseorang tertidur. Perubahan tersebut berpotensi membuat jalur udara menjadi lebih sempit.
“Pada saat kita tidur otot-otot itu akan menjadi melemah, termasuk lidah. Maka, lidah yang tadinya ada di tengah, dia bisa mundur ke bagian belakangnya, dan itu akan menghambat jalan napas,” jelasnya dalam Grand Launching Brain Wellness & Sleep Center di Seraphim Medical Center, Gading Serpong, Tangerang, Senin (5/9/2026).
Selain kondisi otot, posisi tubuh saat tidur turut memengaruhi kemungkinan seseorang mendengkur. Tidur dalam posisi telentang, misalnya, dapat membuat lidah terdorong ke belakang akibat pengaruh gravitasi.
Akibatnya, ruang yang menjadi jalur keluar-masuk udara dapat semakin menyempit dan memicu munculnya suara ngorok.
Faktor lain yang juga dapat menyebabkan dengkuran adalah kondisi di area tenggorokan, termasuk pembesaran amandel.
Amandel yang berukuran besar dapat mengurangi luas saluran pernapasan. Ketika udara melewati bagian yang menyempit, jaringan di sekitarnya dapat bergetar dan menghasilkan suara dengkuran.
“Lalu, kalau ada amandel atau pembesaran kelenjar amandel itu juga bisa menyebabkan seseorang ngorok. Ngorok dihasilkan akibat adanya suara napas yang tersaring di bronkus dan di saluran napas,” papar dr. Niken.
Kapan Kebiasaan Ngorok Harus Diperiksa?
Mendengkur tidak selalu menunjukkan adanya penyakit. Namun, kondisi tersebut perlu mendapat perhatian apabila terjadi secara rutin dan tidak membaik setelah kebiasaan tidur serta pola hidup diperbaiki.
Pemeriksaan menjadi penting untuk memastikan apakah dengkuran berkaitan dengan sleep apnea atau gangguan tidur lainnya.
“Jika sudah memperbaiki sleep hygiene, sudah memperbaiki aktivitas, berat badannya normal, maka perlu diketahui apakah dia ngorok itu ada sleep apnea atau gangguan lain,” tegas dr. Niken.
Untuk mengetahui penyebabnya, dokter dapat melakukan pemeriksaan lebih lanjut. Salah satu metode yang dapat digunakan adalah polisomnografi.
Pemeriksaan tersebut dilakukan dengan memantau sejumlah kondisi tubuh selama seseorang tertidur. Hasilnya dapat membantu dokter melihat apakah terdapat gangguan pernapasan atau masalah tidur lainnya.
“Kalau tidur sering ngorok sebaiknya diperiksa lebih lanjut. Polisomnografi biasanya dibutuhkan atau konsultasi lintas divisi, misalnya bagian paru, THT atau neuro agar bisa menemukan titik masalahnya,” tutup dr. Niken.
Dengan demikian, kebiasaan mendengkur yang muncul berulang kali sebaiknya tidak selalu dianggap sebagai hal normal. Terlebih jika suara ngorok cukup keras atau disertai gangguan tidur.
Pemeriksaan medis dapat membantu memastikan penyebabnya, sekaligus mengetahui apakah terdapat gangguan pada saluran pernapasan atau kondisi tidur tertentu.













