JAKARTA, Cobisnis.com – Generasi Z yang sudah memasuki dunia kerja menghadapi fenomena yang dikenal sebagai quiet covering. Istilah ini merujuk pada kecenderungan karyawan menyembunyikan aspek pribadi atau kemampuan tertentu agar terhindar dari penilaian dan lebih mudah diterima di lingkungan kerja.
Studi Hu X x HiBob mencatat 97% karyawan pernah melakukan covering. Sebanyak 67% di antaranya bahkan mengaku melakukannya lebih sering.
Covering dapat dilakukan dengan menyembunyikan berbagai aspek pribadi, mulai dari ras atau etnis, gender, orientasi seksual, usia, agama, disabilitas, hingga karakteristik lainnya. Dalam beberapa kasus, karyawan juga menyembunyikan kesenjangan kompetensi yang dimiliki.
Survei Attensi terhadap 2.000 karyawan dari berbagai industri dan kelompok usia turut menyoroti quiet covering sebagai fenomena yang tersembunyi di dunia kerja. Sebanyak 58% responden mengaku pernah berpura pura memahami sesuatu dan memilih tidak meminta bantuan meski sebenarnya belum yakin cara mengerjakannya.
Ada sejumlah alasan yang mendorong karyawan melakukan covering. Studi Hu X x HiBob mencatat 55% melakukannya untuk menjaga citra profesional, 48% untuk mendapatkan penerimaan sosial, dan 46% untuk menghindari diskriminasi.
Sebanyak 46% lainnya melakukan covering untuk meningkatkan peluang mendapatkan promosi, kenaikan gaji, atau bonus. Sementara itu, 43% melakukannya agar berpeluang memperoleh penilaian akhir tahun yang lebih baik.
Covering dalam tingkat tertentu dinilai dapat mencerminkan kemampuan beradaptasi dan kecerdasan emosional. Namun, ketika dilakukan terus menerus, kebiasaan tersebut dapat memberikan dampak negatif bagi karyawan.
Dalam studi Hu X x HiBob, sebanyak 64% responden mengatakan covering menyebabkan stres sedang hingga berat. Fenomena ini juga dikaitkan dengan penurunan keterlibatan sebesar 56%, pembatasan kreativitas dan inovasi sebesar 55%, serta penurunan produktivitas dan efisiensi sebesar 54%.
Dampak lainnya mencakup penurunan kinerja sebesar 47%, pengaruh terhadap kehidupan di luar pekerjaan sebesar 43%, dan hambatan terhadap perkembangan karier sebesar 40%.
Fenomena menyembunyikan kemampuan juga muncul dalam penggunaan teknologi di tempat kerja. Studi lain yang dikutip dalam laporan tersebut menunjukkan Gen Z menggunakan AI untuk membantu pekerjaan seperti merangkum notulen rapat, membuat kode, dan bertukar pikiran, tetapi sebagian melakukannya tanpa memberi tahu manajer.
Sebanyak 47% karyawan Gen Z dan Milenial dalam survei tersebut mengaku khawatir AI dapat menggantikan pekerjaan mereka. Sementara itu, 30% mengaku tidak familiar dengan kebijakan AI di perusahaan.
Sebanyak 63% responden juga melaporkan menggunakan aplikasi atau perangkat lunak pribadi untuk keperluan pekerjaan. Kondisi tersebut dinilai dapat menimbulkan risiko keamanan bagi organisasi, terutama ketika penggunaan teknologi kerja tidak mengikuti kebijakan perusahaan.













