JAKARTA, Cobisnis.com — Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump tidak menyetujui permintaan Arab Saudi untuk melakukan serangan militer langsung terhadap kelompok Houthi di Yaman.
Permintaan tersebut disampaikan Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman (MBS) saat berbicara melalui telepon dengan Trump pada Kamis (10/9/2026).
Berdasarkan laporan Axios yang dikutip Anadolu, MBS pertama kali menghubungi Trump untuk memberikan informasi terbaru mengenai kondisi di lapangan. Salah satu perkembangan yang disampaikan berkaitan dengan penarikan pasukan Yaman yang selama ini menjadi mitra Arab Saudi.
Tidak lama berselang, MBS kembali menelepon Trump. Kali ini, ia secara resmi meminta AS memberikan intervensi militer untuk menghadapi Houthi.
Ketegangan kedua pihak meningkat setelah Houthi melancarkan serangan terhadap beberapa kawasan sipil di wilayah selatan Arab Saudi pada awal pekan. Serangan tersebut mengakibatkan 73 orang dilaporkan terluka.
Konflik kembali memanas setelah kawasan tersebut relatif stabil selama beberapa tahun. Kondisi tenang itu berlangsung sejak gencatan senjata diberlakukan pada April 2022.
Houthi dalam perkembangan terbaru juga dilaporkan menguasai Mokha dan beberapa kawasan pesisir di sekitarnya. Wilayah tersebut memiliki posisi strategis karena berada di dekat Selat Bab El-Mandeb.
Selat Bab El-Mandeb merupakan salah satu jalur pelayaran penting yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden. Karena itu, perkembangan konflik di kawasan tersebut berpotensi berdampak terhadap keamanan lalu lintas laut.
Pejabat AS yang dikutip ABC News menyebut hasil penilaian pada Jumat menunjukkan Houthi telah menguasai kawasan pantai barat Yaman. Namun, pasukan pemerintah Yaman bersama kelompok-kelompok yang mendukungnya masih terus melakukan perlawanan.
Houthi disebut memahami bahwa gangguan terhadap pelayaran di Selat Bab El-Mandeb dapat memicu tindakan lebih keras dari Arab Saudi, AS, serta negara lainnya.
Selama ini, Houthi beberapa kali menyatakan bahwa jalur tersebut tetap dapat digunakan kapal komersial. Meski begitu, serangan terhadap kapal yang berkaitan dengan Arab Saudi membuat risiko keamanan bagi kapal lain yang melintasi kawasan tersebut ikut meningkat.
Mengapa Trump Menolak Permintaan Saudi?
Trump menolak permintaan MBS karena pemerintah AS ingin tetap memprioritaskan persoalan Iran dan situasi di Selat Hormuz.
Selain itu, Washington tidak ingin membuka front konflik baru dengan terlibat langsung dalam peperangan di Yaman. AS juga mendorong negara-negara mitranya di Timur Tengah untuk mengambil peran lebih besar dalam menangani persoalan keamanan regional.
“Amerika Serikat berfokus melindungi kepentingan inti keamanan nasional kami seperti menjamin kebebasan navigasi di Laut Merah sembari memberdayakan mitra-mitra regional kami untuk mengambil peran utama dalam menangani dan menyelesaikan tantangan keamanan kawasan,” ujar seorang pejabat senior pemerintahan Trump saat ditanya mengenai pembicaraan telepon presiden dengan bin Salman, dikutip dari berbagai sumber, Senin (14/9/26).
“Kami terus menjalin komunikasi dengan Arab Saudi dan Pemerintah Republik Yaman terkait stabilitas kawasan.”
Walaupun untuk sementara menolak permintaan tersebut, keputusan Trump belum tentu bersifat permanen.
Dua pejabat AS mengatakan kepada ABC News bahwa kebijakan tersebut masih bisa berubah. Hal itu dapat terjadi apabila ancaman terhadap aktivitas pelayaran di Laut Merah meningkat secara signifikan.













