JAKARTA, Cobisnis.com — Masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap influenza A seiring adanya peningkatan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).
Berdasarkan data Kementerian Kesehatan pada Oktober 2025, tren kasus flu mengalami kenaikan hingga 38 persen.
Dari berbagai laporan medis yang tercatat, influenza A menjadi salah satu virus yang banyak ditemukan pada kasus infeksi tersebut.
Kasus influenza A kembali menjadi perhatian setelah peningkatan kasus dilaporkan di tengah masyarakat. Kondisi ini membuat pemahaman mengenai gejala dan langkah penanganannya menjadi penting.
Influenza A tidak selalu dapat dianggap sebagai flu biasa. Infeksi ini dapat berkembang menjadi kondisi yang lebih serius, terutama jika tidak mendapatkan penanganan yang tepat.
Menurut praktisi kesehatan RS Pondok Indah, dr. Hastomo Prabowo MARS, terdapat tiga kelompok utama virus influenza yang dapat menginfeksi manusia, yaitu influenza tipe A, B, dan C.
“Dari ketiga tipe tersebut, virus influenza A cenderung menyebabkan penyakit flu yang gejalanya lebih berat dan kerap menjadi penyebab wabah flu musiman, bahkan pandemi global,” kata dr. Hastomo, dikutip dari berbagai sumber, Senin (14/9/26).
Kenali Gejala Sejak Awal
Langkah awal yang penting adalah mengenali gejala influenza sedini mungkin. Influenza A dapat menyebar melalui percikan pernapasan saat seseorang bersin maupun melalui kontak dengan benda yang telah terkontaminasi.
Penularan tersebut membuat seseorang terkadang tidak menyadari bahwa dirinya telah terpapar virus. Gejala juga dapat muncul secara tiba-tiba setelah masa inkubasi.
“Mengingat cara penularannya yang mudah, terkadang seseorang bahkan tidak sadar hingga akhirnya gejala muncul mendadak pada 1-4 hari setelah terpapar virus. Gejala influenza A umumnya lebih berat dibandingkan dengan flu biasa,” kata dr. Hastomo.
Gejala yang dapat muncul antara lain batuk, demam tinggi, menggigil, sakit kepala, serta nyeri pada otot. Pada sebagian penderita, kondisi tersebut juga dapat disertai mual hingga muntah.
Jika tidak ditangani dengan baik, influenza dapat berkembang dan menimbulkan komplikasi, termasuk pneumonia.
Pemeriksaan Membantu Memastikan Diagnosis
Ketika gejala yang dirasakan cukup berat, penderita disarankan memeriksakan kondisi kepada tenaga kesehatan. Langkah tersebut diperlukan agar penyakit dapat diketahui secara lebih akurat dan pengobatan diberikan sesuai penyebabnya.
Dokter dapat menyarankan pemeriksaan Polymerase Chain Reaction (PCR) untuk membantu mengidentifikasi penyebab infeksi. Pemeriksaan laboratorium tersebut dapat mendeteksi berbagai jenis virus dan bakteri.
Diagnosis yang tepat sejak awal membantu tenaga medis menentukan penanganan yang sesuai serta mengurangi risiko kesalahan dalam pemberian terapi.
Obat dan Istirahat Tetap Penting
Setelah penyebab infeksi diketahui, dokter akan menentukan pengobatan berdasarkan kondisi pasien. Penanganan dapat mencakup obat untuk meredakan nyeri, menurunkan demam, hingga antivirus pada kondisi tertentu.
“Kasus influenza A yang masih tergolong ringan biasanya dapat sembuh dalam 5-7 hari,” kata dr. Hastomo.
Selain mengikuti pengobatan yang diberikan dokter, penderita juga perlu memperbanyak waktu istirahat. Tubuh membutuhkan energi untuk melawan infeksi dan memulihkan kondisi.
Asupan makanan juga perlu diperhatikan dengan memilih makanan bergizi yang mengandung cukup kalori dan protein. Di samping itu, kebutuhan cairan harus tetap terpenuhi untuk mencegah dehidrasi.
Dengan mengenali gejala lebih awal, mendapatkan diagnosis yang tepat, serta menjalani penanganan sesuai anjuran tenaga medis, risiko influenza A berkembang menjadi komplikasi dapat diminimalkan.













