JAKARTA, Cobisnis.com – Nilai tukar rupiah dibuka melemah pada perdagangan Selasa (8/9/2026) pagi. Rupiah berada di level Rp17.645 per dolar AS, turun 5 poin atau 0,03% dibandingkan perdagangan sebelumnya.
Pergerakan rupiah terjadi ketika mata uang Asia bergerak bervariasi terhadap dolar AS. Sejumlah mata uang kawasan tercatat menguat pada perdagangan pagi ini.
Peso Filipina menguat 0,16%, ringgit Malaysia naik 0,02%, dolar Singapura menguat 0,12%, yen Jepang naik 0,72%, dan won Korea Selatan terapresiasi 0,63%.
Di sisi lain, yuan China melemah 0,01% terhadap dolar AS. Dolar Hong Kong tercatat bergerak datar pada perdagangan pagi.
Pergerakan mata uang negara maju juga cenderung beragam. Euro menguat 0,10%, poundsterling naik 0,05%, dolar Kanada menguat 0,10%, dan franc Swiss terapresiasi 0,15%.
Sementara itu, dolar Australia menjadi salah satu mata uang negara maju yang melemah. Mata uang tersebut terkoreksi 0,03% terhadap dolar AS.
Analis mata uang DOO Financial Futures Lukman Leong memperkirakan rupiah akan bergerak konsolidatif sepanjang perdagangan hari ini. Kondisi tersebut dipengaruhi minimnya rilis data ekonomi penting dari dalam maupun luar negeri.
“Rupiah diperkirakan berkonsolidasi terhadap dolar AS di tengah absennya data ekonomi penting, baik dari internal maupun eksternal hari ini,” ujar Lukman.
Menurut Lukman, rupiah masih berpotensi mendapat dukungan dari indeks dolar yang terpantau terkoreksi. Namun, kenaikan harga minyak mentah dunia akibat eskalasi di Timur Tengah menjadi sentimen yang membebani pergerakan rupiah.
Lukman memperkirakan rupiah akan bergerak dalam rentang Rp17.600 hingga Rp17.700 per dolar AS pada perdagangan Selasa (8/9/2026). Pergerakan tersebut akan mencerminkan tarik menarik antara sentimen eksternal dan minimnya katalis dari data ekonomi.













