JAKARTA, Cobisnis.com – Elon Musk mulai melihat luar angkasa sebagai lokasi potensial untuk membangun infrastruktur komputasi AI. Gagasan ini semakin menarik setelah SpaceX dan xAI disatukan dalam satu ekosistem dengan valuasi gabungan sekitar US$1,25 triliun.
“Siapapun yang mampu menyediakan compute dan energi dalam skala terbesar akan berada di posisi yang sangat kuat,” kata Indrawan Nugroho, dikutip dari kanal YouTube Dr. Indrawan Nugroho, Selasa (1/9/2026).
Kebutuhan energi menjadi salah satu persoalan terbesar dalam pengembangan AI. Data center membutuhkan listrik dalam jumlah besar, sementara pembangunan pembangkit, jaringan transmisi, dan infrastruktur pendukung membutuhkan waktu.
xAI telah menghadapi persoalan tersebut melalui Colossus di Memphis, Tennessee. Superkomputer untuk mengembangkan Grok itu disebut telah menggunakan lebih dari 200.000 chip Nvidia dan masih membutuhkan ekspansi untuk memenuhi kebutuhan komputasi AI.
Tekanan energi juga dirasakan perusahaan teknologi lain. Microsoft mendukung pengoperasian kembali pembangkit nuklir berkapasitas 835 MW di Pennsylvania, sementara Amazon memperluas kerja sama untuk memperoleh pasokan listrik hingga 1.920 MW dari pembangkit nuklir.
Di tengah persaingan tersebut, SpaceX memiliki aset yang tidak dimiliki perusahaan AI pada umumnya. Perusahaan ini memiliki roket yang dapat digunakan kembali, produksi satelit dalam jumlah besar, Starlink, komunikasi laser, serta kemampuan mengirim perangkat keras ke orbit.
Kemampuan itu berpotensi digunakan untuk membangun data center orbital. Satelit dapat membawa chip AI, memperoleh energi dari matahari, terhubung melalui komunikasi laser, lalu memproses data langsung di luar angkasa.
Konsep tersebut juga mulai diteliti perusahaan lain. Google memperkenalkan Project Suncatcher pada November 2025, sebuah riset mengenai konstelasi satelit bertenaga surya yang membawa TPU dan terhubung melalui jaringan optik.
Pada Januari 2026, SpaceX mengajukan aplikasi kepada regulator Amerika Serikat untuk membangun sistem data center orbital hingga 1 juta satelit. Jumlah tersebut merupakan batas maksimum dalam pengajuan dan belum berarti seluruh satelit tersebut mendapat izin untuk diluncurkan.
Penggabungan SpaceX dan xAI membuat rencana tersebut memiliki jalur bisnis yang saling terhubung. SpaceX membawa perangkat keras ke orbit, Starlink menyediakan jaringan, sementara xAI memiliki kebutuhan compute yang besar dan berpotensi menjadi pengguna awal.
Namun, pembangunan data center di luar angkasa menghadapi tantangan besar. Biaya peluncuran, penggantian chip, pemeliharaan, serta sistem pembuangan panas menjadi persoalan karena ruang hampa tidak memiliki udara yang dapat membantu membawa panas keluar dari server.
Karena itu, SpaceX kemungkinan tidak akan langsung bersaing dengan AWS, Microsoft Azure, dan Google Cloud di pasar cloud umum. Jalur yang lebih realistis adalah memulai dari pemrosesan data satelit, pengamatan bumi, pertahanan, cuaca, dan kebutuhan lain yang memang berasal dari luar angkasa.
Jika biaya peluncuran terus turun dan teknologi semakin matang, komputasi orbital berpotensi berkembang menjadi bagian baru dari industri AI. Ambisi Musk menunjukkan bahwa persaingan AI ke depan tidak hanya ditentukan oleh model terbaik, tetapi juga oleh siapa yang mampu menguasai compute, energi, chip, dan infrastruktur pendukungnya.













