JAKARTA, Cobisnis.com — Aktivitas Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda kembali mengalami peningkatan. Pada 6 September 2026, gunung api tersebut berada pada status Level III atau Siaga.
Sehari setelahnya, abu vulkanik masih dilaporkan menyebar ke sejumlah wilayah.
Meski aktivitas vulkanik meningkat, layanan penyeberangan pada rute Merak-Bakauheni dan sebaliknya masih tetap berlangsung.
Pemerintah menempatkan aspek keselamatan pelayaran sebagai perhatian utama di tengah kondisi tersebut.
“Kementerian Perhubungan melalui Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas I Banten meminta kapal yang melintas meningkatkan kewaspadaan. Perhatian diberikan terhadap aktivitas Gunung Anak Krakatau, sebaran abu vulkanik, kondisi cuaca, hingga keadaan perairan,” dikutip dari berbagai sumber, Senin (7/9/26).
Selain itu, pelayaran dibatasi pada radius tiga kilometer dari kawah aktif Gunung Anak Krakatau.
Pembatasan tersebut menjadi salah satu upaya untuk mengurangi potensi risiko terhadap kapal dan awak yang beraktivitas di sekitar kawasan tersebut.
Nakhoda juga diminta terus mengikuti perkembangan informasi resmi mengenai aktivitas gunung api.
Arah pergerakan abu vulkanik dan perubahan kondisi cuaca perlu menjadi pertimbangan sebelum kapal melakukan pelayaran.
Keberlangsungan jalur Merak-Bakauheni memiliki peran penting karena menjadi salah satu penghubung utama antara Pulau Jawa dan Sumatera.
Jika layanan tersebut terganggu dalam waktu lama, mobilitas masyarakat serta distribusi barang berpotensi ikut terdampak.
Namun, keberlanjutan operasional perlu diikuti dengan penerapan standar keselamatan yang lebih ketat.
Peningkatan aktivitas vulkanik membuat kondisi pelayaran harus dievaluasi secara berkala berdasarkan perkembangan di lapangan.
Risiko Tidak Hanya di Sekitar Kawah
Pembatasan jarak kapal dari kawah aktif memang menjadi langkah penting. Meski demikian, potensi bahaya dalam pelayaran tidak hanya berasal dari area yang berada dekat dengan sumber erupsi.
Abu vulkanik dapat terbawa angin dan mencapai wilayah yang cukup jauh. Bagi aktivitas pelayaran, kondisi tersebut dapat mengganggu jarak pandang serta memengaruhi kegiatan operasional kapal.
Karena itu, keputusan untuk tetap berlayar perlu mempertimbangkan sejumlah faktor secara menyeluruh.
Kondisi cuaca, arah serta tingkat sebaran abu, jarak pandang, keadaan perairan, dan perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau perlu menjadi bagian dari penilaian keselamatan.
Dengan demikian, status gunung api memang menjadi salah satu indikator penting dalam menentukan keamanan pelayaran.
Namun, keputusan operasional tidak seharusnya hanya bergantung pada status tersebut.
Pemantauan kondisi secara terus-menerus diperlukan agar operasional penyeberangan Merak-Bakauheni tetap dapat berjalan tanpa mengabaikan aspek keselamatan penumpang, awak kapal, maupun distribusi logistik.













