JAKARTA, Cobisnis.com – Dokter Tirta membagikan sejumlah nasihat untuk anak muda yang sedang menghadapi quarter life crisis. Menurutnya, usia 20 hingga 25 tahun merupakan fase penting untuk membangun fondasi kehidupan sebelum memasuki usia 30 an.
Dokter Tirta mengatakan kehidupan di usia 35 tahun justru cenderung membosankan. “Di usia 35 tahun ini hidup saya sangat membosankan,” kata Dokter Tirta, dikutip dari kanal Youtube MALAKA, Senin (21/8/2026).
Menurutnya, kehidupan yang membosankan tidak selalu berarti buruk. Rutinitas yang teratur, pendapatan yang sudah terukur, serta pengeluaran yang dapat diperkirakan justru menunjukkan kondisi yang stabil.
“Boring itu artinya stable,” ujar Dokter Tirta. Ia menjelaskan, stabilitas tersebut terlihat ketika seseorang sudah mengetahui pendapatan tetap, biaya hidup, tabungan, hingga kebutuhan daruratnya.
Untuk anak muda, Dokter Tirta menyarankan agar usia 20 hingga 25 tahun digunakan untuk mencari ilmu sebanyak mungkin. Pengetahuan tersebut tidak hanya berasal dari pendidikan formal, tetapi juga bisa didapat dari mentor, lingkungan, teman, buku, artikel, maupun video.
“Kalau kalian masih 20 sampai 25 tahun, kalian tuh energinya berlebih. Kalian gunakan itu buat cari ilmu sebanyak banyaknya,” tuturnya.
Ia juga meminta anak muda tidak takut melakukan pivot dalam kehidupan. Menurutnya, perubahan karier, pendidikan, maupun prinsip lebih mudah dilakukan ketika masih muda karena risiko yang ditanggung cenderung lebih kecil.
“Di usia 20 sampai 25 itu adalah mekanisme terbaik buat pivot,” kata Dokter Tirta. Ia menilai seseorang yang sudah memasuki usia 30 an cenderung lebih berhati hati karena keputusan yang diambil memiliki risiko lebih besar.
Selain ilmu dan keberanian mencoba hal baru, Dokter Tirta menekankan pentingnya menjaga kesehatan fisik sejak muda. Kebiasaan berolahraga dinilai penting agar seseorang tetap produktif ketika memasuki usia 30 tahun ke atas.
“Kalau kalian olahraga fisik dari seusia muda mungkin, itu akan membuat usia 30, 35 kamu terhindar dari penyakit penyakit pegal pegal dan akan produktif,” ujarnya.
Dalam urusan pernikahan, Dokter Tirta menilai istilah mencari pasangan yang tidak berasal dari nol perlu dipahami kembali. Menurutnya, yang lebih penting bukan sekadar jumlah penghasilan, tetapi adanya usaha dan persiapan untuk membangun kehidupan bersama.
“Financial stable itu nomor dua, tapi yang dicari adalah effort dan preparation,” kata Dokter Tirta. Persiapan tersebut mencakup tempat tinggal, pengelolaan keuangan, pembagian tanggung jawab, hingga rencana memiliki anak.
Ia juga mengingatkan anak muda agar tidak gegabah mengambil keputusan ketika sedang dikuasai emosi. Keputusan besar seperti resign dari pekerjaan, menurutnya, sebaiknya dilakukan dengan persiapan dan perhitungan yang matang.
“Jangan pernah membuat keputusan saat kamu terlalu sedih, terlalu senang, atau terlalu marah,” ujarnya. Menurut Dokter Tirta, keputusan yang dibuat dalam kondisi emosional berisiko menjadi tidak logis dan sulit dipertanggungjawabkan.
Untuk urusan pekerjaan, Dokter Tirta juga menyarankan agar anak muda memahami batas antara hubungan profesional dan pertemanan. Ia menilai hubungan di lingkungan kerja perlu tetap dijalani secara profesional karena terdapat target, penilaian kinerja, dan persaingan.
“Pertemanan di dunia kerja itu semua profesional dan transaksional,” kata Dokter Tirta. Ia mengingatkan agar seseorang tidak terlalu mudah membagikan hal pribadi kepada rekan kerja.
Terakhir, Dokter Tirta mengajak anak muda untuk tidak takut melakukan kesalahan. Menurutnya, pengalaman tersebut dapat menjadi bekal untuk menjalani kehidupan di masa mendatang.
“Kesalahan di waktu muda itu masih bisa diwajarkan. Karena setiap anak muda yang berbuat salah itu adalah sebuah pembelajaran di masa tua,” ujar Dokter Tirta.













