JAKARTA, Cobisnis.com – Daging merupakan sumper protein hewani yang baik untuk kesehatan tubuh. Saat membeli daging di supermarket atau pasar, tidak bisa asal pilih. Salah memilih daging, tidak hanya berpengaruh pada rasa makanan saja, tapi juga mengancam kesehatan.
Maka dari itu, penting sekali mengetahui cara memilih daging yang baik. Menurut ahli gizi Dr. Joanna McMillan punya tips mudah memilih daging yang berkualitas baik dan segar.
Ia mengatakan, saat membeli produk daging segar langsung dari konter toko makanan dibandingkan dengan kemasan siap saji di supermarket tidak mengubah nilai gizinya, kata Dr. McMillan.
Namun, saat membeli dari toko daging, Dr. McMillan lebih suka melihat daging diiris segar di depannya, daripada memilih irisan yang telah dipotong sebelumnya dan dibiarkan tergeletak begitu saja.
“Di dalam kemasan yang tersegel, tetapi begitu Anda membukanya, Anda harus menggunakannya sebelum tanggal yang tertera. Merujuk secara khusus pada tanggal gunakan sebelum,” ungkapnya dilansir dari Nine, Minggu (30/08/2026).
Yang terpenting, dia menyarankan para pembeli untuk tidak mempercayai tes penciuman.
“Terkadang bakteri dapat tumbuh tanpa kamu sadari, jangan sekali-kali mencicipinya. Jika ragu, jangan dimakan,” saran dia.
Sementara, untuk daging kemasan atau siap saji yang biasa dikonsumsi karena lebih praktis dimasak, Dr. McMillan menyarankan untuk sebaiknya tidak dikonsumsi setiap hari, walaupun di kemasan tertera daging utuh.
Terkait kekhawatiran kesehatan umum tentang konsumsi daging olahan, Dr. McMillan menegaskan bahwa kekhawatiran tersebut valid, tetapi dapat dikurangi sampai batas tertentu.
“Tidak buruk. Tapi saya tentu tidak akan memakannya setiap hari.”
“Sekali atau dua kali seminggu mungkin tidak apa-apa, asalkan mereka makan roti gandum utuh dan ada sayuran serta buah-buahan di dalamnya,” ucapnya.
Lebih lanjut, Dr. McMillan juga mengimbau untuk memperhatikan kesehatan jangka panjang jika terlalu sering mengonsumi daging olahan atau daging kemasan.
“Tidak diragukan lagi bahwa konsumsi daging olahan yang tinggi akan meningkatkan risiko kanker kolorektal. Namun, risiko-risiko ini dapat dikurangi jika mengonsumsi serat dan biji-bijian utuh dari berbagai sumber nabati,” terangnya.













