Di Aceh, salah satu tradisi tersebut hadir melalui Kuah Beulangong, hidangan khas yang biasa disajikan dalam perayaan Maulid Nabi SAW.
Di balik cita rasanya, kuliner ini memiliki sejarah serta tradisi memasak bersama yang mencerminkan kuatnya nilai kebersamaan masyarakat Aceh.
Berikut sejumlah fakta menarik tentang Kuah Beulangong yang dirangkum dari Acehbesarkab.go.id, dikutip dari berbagai sumber, Selasa (25/8/2026).
1. Diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda
Kuah Beulangong merupakan kuliner khas Aceh Besar yang memiliki nilai budaya kuat dan resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTB) Indonesia sejak 2018.
Hidangan tersebut umumnya disajikan dalam berbagai kegiatan masyarakat, mulai dari Maulid Nabi Muhammad SAW, kenduri, syukuran, hingga resepsi.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Aceh Besar Bahrul Jamil menyebut pengakuan tersebut menjadi motivasi untuk terus melestarikan Kuah Beulangong agar semakin dikenal hingga tingkat nasional dan internasional.
2. Dimasak dalam Kuali Besar
Nama Beulangong berasal dari kata belanga yang berarti kuali besar, sesuai dengan cara memasak hidangan tersebut dalam jumlah banyak.
Sekali memasak, Kuah Beulangong dapat dibuat hingga sekitar 300 porsi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dalam sebuah kegiatan bersama.
Bahan utamanya dapat berupa daging sapi, kambing, atau kerbau yang dimasak dengan rempah khas Aceh.
Nangka muda, pisang muda, hingga bagian dalam batang pisang juga dapat ditambahkan sebagai bahan pelengkap.
Perpaduan daging, rempah, dan bahan-bahan tersebut menghasilkan cita rasa khas sekaligus menggambarkan tradisi memasak dalam jumlah besar untuk kepentingan bersama.
3. Tradisi Sejak Abad ke-19
Tradisi memasak Kuah Beulangong disebut telah berlangsung sejak abad ke-19 atau bahkan lebih lama.
Kemunculan tradisi tersebut dikaitkan dengan pedagang Gujarat, India, yang datang ke Aceh untuk berdagang sekaligus menyebarkan Islam.
Kuah Beulangong kemudian menjadi bagian dari berbagai tradisi masyarakat Aceh, salah satunya Khanduri Blang yang merupakan kenduri sebagai bentuk syukuran menjelang musim tanam padi.
Dalam tradisi tersebut, masyarakat berkumpul dan berdoa agar mendapatkan hasil panen yang melimpah.
Hidangan Kuah Beulangong turut memperkuat tradisi kebersamaan tersebut dan kemudian menjadi bagian dari berbagai kegiatan keagamaan, termasuk peringatan Maulid Nabi SAW.
4. Dimasak Kaum Pria dan Penuh Makna
Proses memasak Kuah Beulangong secara tradisional dilakukan oleh kaum pria secara bergantian selama sekitar dua jam hingga hidangan matang.
Tradisi tersebut mencerminkan nilai gotong royong dan tanggung jawab dalam kehidupan masyarakat Aceh.
Kegiatan memasak bersama juga menjadi kesempatan bagi warga untuk berkumpul sekaligus mempererat hubungan antarwarga.
Bahrul Jamil menilai Kuah Beulangong bukan sekadar hidangan tradisional, tetapi juga bagian dari identitas budaya masyarakat Aceh yang perlu terus diwariskan di tengah modernisasi.