JAKARTA, Cobisnis.com – Harga minyak mentah dunia melonjak tajam pada perdagangan Rabu, 29 Juli 2026. Kenaikan dipicu memanasnya konflik di Timur Tengah serta berkurangnya cadangan minyak mentah Amerika Serikat.
Harga minyak mentah Brent naik US$3,30 atau sekitar 3,9 persen menjadi US$87,39 per barel. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate atau WTI menguat US$3,05 atau 3,8 persen ke level US$82,31 per barel.
Lonjakan harga terjadi setelah meningkatnya ketegangan militer di kawasan Timur Tengah. Situasi tersebut kembali memicu kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan energi global.
Laporan Reuters menyebut militer Amerika Serikat berhasil menggagalkan serangan terhadap pasukannya di kawasan tersebut. Di saat yang sama, Arab Saudi juga dilaporkan mencegat drone yang menargetkan infrastruktur energi.
Menurut analis ING, Amerika Serikat dan Arab Saudi kemudian melancarkan serangan balasan ke sejumlah fasilitas persenjataan di wilayah Irak timur. Perkembangan itu memperbesar kekhawatiran pasar terhadap eskalasi konflik.
Harapan pasar terhadap meredanya ketegangan di kawasan Teluk Persia pun kembali memudar. Investor kini lebih berhati hati terhadap risiko gangguan distribusi minyak dunia.
Selain faktor geopolitik, kenaikan harga minyak juga didukung menurunnya cadangan minyak mentah Amerika Serikat. Data American Petroleum Institute menunjukkan stok minyak AS berkurang sekitar 3,3 juta barel hingga 24 Juli 2026.
Pasar kini menunggu data resmi dari Badan Informasi Energi Amerika Serikat atau EIA. Laporan tersebut akan menjadi acuan untuk melihat kondisi pasokan energi di negara tersebut.
Sentimen lain datang dari OPEC Plus yang disebut berpeluang menunda rencana peningkatan produksi minyak mulai Oktober. Jika keputusan itu diambil, pasokan global diperkirakan tetap terbatas sehingga berpotensi menjaga harga minyak tetap tinggi.













