JAKARTA, Cobisnis.com – Strategi pemasaran digital di Indonesia mulai mengalami perubahan. Perusahaan kini tidak lagi hanya mengejar kreator dengan jutaan pengikut, tetapi lebih mengutamakan sosok yang mampu membangun kepercayaan dan memengaruhi keputusan konsumen.
Perubahan ini sejalan dengan semakin matangnya ekosistem digital nasional. Konten yang relevan dan hubungan yang kuat dengan audiens kini dinilai lebih efektif dibanding sekadar mengejar viralitas.
Laporan Digital 2025 Indonesia dari DataReportal mencatat jumlah pengguna internet di Indonesia mencapai sekitar 212 juta orang atau 74,6 persen dari total populasi. Sementara identitas pengguna media sosial telah mencapai sekitar 143 juta akun.
Besarnya pasar digital membuat strategi pemasaran ikut bergeser. Perusahaan kini lebih fokus menjangkau konsumen yang tepat dibanding hanya mengejar jumlah orang yang melihat sebuah kampanye.
Founder sekaligus Direktur PT Our Good Media, Dimas Said Arifin, mengatakan kesalahan yang masih sering terjadi adalah memilih influencer hanya berdasarkan jumlah pengikut. Menurutnya, kesesuaian audiens, kualitas konten, reputasi, hingga tujuan kampanye justru menjadi faktor yang lebih menentukan.
Ia menilai kreator yang memahami karakter pengikutnya mampu menyampaikan promosi secara lebih alami. Kedekatan emosional dengan audiens juga dinilai lebih efektif dalam membangun kepercayaan terhadap sebuah produk.
Perubahan tersebut membuat peran micro creator dan nano creator semakin diperhitungkan. Meski memiliki jumlah pengikut lebih sedikit, tingkat interaksi mereka dengan komunitas dinilai lebih tinggi dibanding influencer berskala besar.
Dimas menjelaskan perusahaan kini mencari kreator yang relevan dengan produk, mampu berkomunikasi secara natural, memahami kebutuhan kampanye, serta bekerja secara profesional. Target akhirnya bukan hanya meningkatkan awareness, tetapi juga mendorong penjualan.
Our Good Media sendiri mulai mengembangkan bisnisnya sejak 2023. Berbasis di Malang dan Lumajang, perusahaan tersebut telah melayani lebih dari 200 klien, mengelola sekitar 100 kreator aktif, didukung 15 karyawan, serta membukukan omzet gabungan sekitar Rp6 miliar sepanjang 2025.
Menurut Dimas, masa depan industri kreator digital Indonesia masih sangat menjanjikan. Kreator kini tidak lagi dipandang sebagai media promosi, melainkan mitra strategis yang mampu membangun komunitas, memperkuat kepercayaan konsumen, hingga mendukung pertumbuhan bisnis sebuah brand.













