JAKARTA, Cobisnis.com – Nilai tukar rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat pada perdagangan Senin, 13 Juli 2026. Hingga pukul 12.01 WIB, rupiah di pasar spot berada di level Rp18.145 per dolar AS atau turun 0,44 persen secara harian.
Pelemahan tersebut terjadi setelah rupiah sempat menguat ke level Rp18.065 per dolar AS pada penutupan perdagangan Jumat, 10 Juli 2026. Pergerakan ini menunjukkan tekanan terhadap mata uang domestik masih belum mereda.
Analis Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan pelemahan rupiah dipengaruhi oleh sentimen ekonomi dalam negeri. Investor masih mencermati prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam beberapa tahun ke depan.
Menurut Ibrahim, Asian Development Bank atau ADB memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,2 persen pada 2026 dan 2027. Angka tersebut tidak berubah dibandingkan proyeksi yang dirilis pada April lalu.
Meski dinilai stabil, proyeksi ADB masih berada di bawah target pemerintah. Dalam APBN 2026, pemerintah bersama DPR menetapkan target pertumbuhan ekonomi sebesar 5,4 persen.
Selain faktor domestik, tekanan terhadap rupiah juga datang dari pasar global. Lonjakan harga minyak mentah memunculkan kekhawatiran meningkatnya inflasi berbasis energi.
Kondisi tersebut dinilai dapat mendorong bank sentral Amerika Serikat atau Federal Reserve mempertahankan kebijakan moneter yang lebih ketat. Situasi ini membuat aset berbasis dolar AS tetap menarik bagi investor global.
Ibrahim memperkirakan pergerakan rupiah masih akan fluktuatif dalam jangka pendek. Pelaku pasar juga terus mencermati perkembangan ekonomi global dan arah kebijakan suku bunga Amerika Serikat.
Tekanan terhadap rupiah diperkirakan masih akan berlanjut apabila sentimen eksternal belum membaik. Di sisi lain, stabilitas ekonomi domestik tetap menjadi faktor penting untuk menjaga kepercayaan investor.
Investor dan pelaku usaha diharapkan tetap mencermati pergerakan nilai tukar karena dapat memengaruhi biaya impor, inflasi, hingga aktivitas bisnis. Perkembangan pasar global masih menjadi faktor utama yang menentukan arah rupiah dalam waktu dekat.













