JAKARTA, Cobisnis.com – Perusahaan kecerdasan buatan terbesar dunia bersiap menghadapi tantangan baru setelah memasuki pasar saham. Pembuat ChatGPT, OpenAI, menjadi perusahaan AI terbaru yang mengumumkan rencana penawaran saham perdana atau IPO.
Sebelumnya, Anthropic juga mengajukan dokumen IPO secara rahasia kepada regulator. Sementara itu, SpaceX, yang mencakup perusahaan AI xAI milik Elon Musk, dijadwalkan memulai debutnya di pasar saham.
Ketiga IPO tersebut diperkirakan memberi gambaran paling jelas tentang kondisi industri AI saat ini. Selain itu, penawaran saham tersebut berpotensi menghasilkan transaksi bernilai ratusan miliar dolar.
Namun, status sebagai perusahaan publik juga membawa tekanan baru. Wall Street menuntut pertumbuhan pendapatan yang kuat setiap kuartal. Karena itu, investor akan mengawasi kinerja bisnis AI lebih ketat dibanding sebelumnya.
Selain itu, perusahaan tersebut memperkirakan pertumbuhan bisnis semikonduktor mencapai 180 persen dibanding tahun lalu. Meski begitu, saham Broadcom tetap turun lebih dari 13 persen pekan lalu.
Penurunan itu menjadi kinerja mingguan terburuk perusahaan sejak September 2024. Sementara itu, saham perusahaan chip AI lainnya juga ikut melemah. Indeks Nasdaq turun selama tiga hari berturut-turut.
Selain itu, indeks S&P 500 mencatat penurunan harian terbesar sejak Oktober. Analis Bernstein, Stacy Rasgon, menilai investor terus menginginkan pertumbuhan yang lebih besar dari perusahaan teknologi.
Bahkan, Nvidia yang menjadi perusahaan publik paling bernilai di dunia tetap menghadapi tekanan serupa. Pada Januari 2025, nilai pasar Nvidia sempat anjlok sekitar 600 miliar dolar AS dalam satu hari.
Penurunan itu terjadi setelah kemunculan pesaing baru asal China, DeepSeek, yang mengguncang sentimen investor. Karena itu, perjalanan OpenAI, Anthropic, dan SpaceX sebagai perusahaan publik diperkirakan tidak akan mudah meski valuasi mereka terus meningkat.













