JAKARTA, Cobisnis.com – Uni Eropa mulai mengambil langkah besar untuk mengurangi ketergantungan pada teknologi dari Amerika Serikat dan China. Kekhawatiran terhadap dominasi dua negara tersebut mendorong lahirnya kebijakan kedaulatan teknologi.
Komisi Eropa menilai ketergantungan tinggi pada teknologi asing membuat kawasan rentan terhadap tekanan politik dan ekonomi. Kondisi ini dianggap semakin relevan di tengah meningkatnya rivalitas global.
Saat ini lebih dari 80 persen layanan digital penting, infrastruktur, dan kekayaan intelektual di Eropa masih bergantung pada pihak luar. Situasi ini dinilai tidak sejalan dengan ambisi kemandirian Uni Eropa.
Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen menegaskan teknologi strategis tidak boleh sepenuhnya berada di tangan pihak luar. Ia menekankan sektor penting seperti kesehatan, energi, dan keamanan harus memiliki ketahanan internal.
Melalui kebijakan “tech sovereignty”, Uni Eropa berupaya memperkuat industri teknologi domestik. Fokus utamanya adalah mengurangi ketergantungan pada perusahaan teknologi besar dari Amerika Serikat dan China.
Langkah ini mencakup penguatan sektor cloud computing dan kecerdasan buatan (AI), termasuk rencana peningkatan kapasitas pusat data hingga tiga kali lipat dalam beberapa tahun ke depan.
Di sektor semikonduktor, Uni Eropa saat ini baru memproduksi sekitar 10 persen kebutuhan global. Karena itu, Eropa menargetkan pembangunan fasilitas baru dan penguatan produksi chip dalam negeri hingga 2033.













