JAKARTA, Cobisnis.com – Harga tiket pesawat domestik di Indonesia mengalami kenaikan signifikan pada April 2026. Lonjakan ini dipicu oleh naiknya harga bahan bakar pesawat atau avtur yang mengikuti tren global.
Kenaikan harga tiket terlihat jelas pada rute populer seperti Jakarta-Bali. Pada April 2026, harga tiket sudah menembus Rp1 juta, naik dari kisaran Rp800.000 hingga Rp900.000 pada Februari 2026.
Data dari sejumlah maskapai menunjukkan tren serupa. Tiket rute Cengkareng–Denpasar kini dijual mulai Rp1,1 juta, sementara maskapai full service mematok harga mulai Rp1,5 juta.
Lonjakan ini tidak lepas dari kenaikan harga avtur yang cukup tajam. Untuk domestik, harga avtur naik hingga sekitar 70%, sementara rute internasional bahkan mencapai lebih dari 80%.
Di Bandara Soekarno-Hatta, harga avtur domestik naik dari Rp13.656,51 per liter menjadi Rp23.551,08 per liter pada April 2026. Kenaikan ini mencapai sekitar 72,45% dalam waktu singkat.
Untuk avtur internasional, harga melonjak dari 0,742 dolar AS per liter menjadi 1,338 dolar AS per liter. Kenaikan ini mencerminkan tekanan besar dari pasar energi global.
Jika dibandingkan dengan 2019, harga avtur bahkan sudah melonjak hingga 295%. Kondisi ini menjadi beban serius bagi maskapai penerbangan yang sangat bergantung pada bahan bakar.
Asosiasi maskapai menyebut kenaikan ini tidak terhindarkan. Faktor utama berasal dari krisis geopolitik, terutama konflik di Timur Tengah yang memengaruhi pasokan energi global.
Sebagai respons, pelaku industri mendorong penyesuaian tarif. Usulan kenaikan tarif batas atas dan fuel surcharge menjadi langkah yang dinilai perlu untuk menjaga operasional maskapai.
Di sisi lain, maskapai seperti Garuda Indonesia memilih fokus pada efisiensi. Langkah ini dilakukan dengan mengoptimalkan penggunaan bahan bakar dan menekan biaya operasional lainnya.
Bahan bakar sendiri menyumbang sekitar 40% dari total biaya operasional maskapai. Karena itu, kenaikan avtur langsung berdampak besar terhadap harga tiket.
Meski tekanan meningkat, maskapai tetap berupaya menjaga operasional. Stabilitas penerbangan dinilai penting untuk memastikan konektivitas antarwilayah tetap berjalan.













