Di pasar spot, harga emas naik 2,5% ke US$ 4.784,22 per ons, menjadi level tertinggi sejak 19 Maret. Sementara kontrak berjangka emas AS menguat 2,9% ke US$ 4.813,10 per ons.
Pelemahan dolar AS membuat emas lebih menarik bagi investor global. Di saat yang sama, sentimen geopolitik ikut menopang pergerakan harga.
Harapan meredanya konflik Iran mulai mengubah arah ekspektasi pasar. Investor melihat peluang stabilitas, namun tetap berhati-hati terhadap risiko baru.
Analis menilai harga emas berpotensi menembus US$ 5.000 per ons jika ekspektasi pemangkasan suku bunga kembali menguat. Ini bisa terjadi jika tekanan inflasi mulai mereda.
Namun, meredanya konflik juga bisa menjadi tekanan bagi emas. Hilangnya faktor safe haven berpotensi menahan kenaikan harga.
Di sisi lain, turunnya harga minyak dapat menekan inflasi global. Kondisi ini membuka peluang pelonggaran kebijakan moneter yang justru mendukung emas.
Sebelumnya, harga emas sempat turun lebih dari 11% pada Maret akibat lonjakan harga energi. Tekanan inflasi saat itu membuat pasar menunda ekspektasi penurunan suku bunga.
Hingga kini, arah pasar masih bergantung pada perkembangan konflik dan kebijakan ekonomi global. Investor cenderung bergerak cepat mengikuti perubahan sentimen.
Selain emas, logam mulia lain juga menguat. Perak naik 1,2%, platinum 1,6%, dan palladium 1,3%, menandakan sentimen positif di pasar komoditas.