JAKARTA, Cobisnis.com – Teknologi kecerdasan buatan bernama OpenClaw sedang menjadi tren besar di China, dengan berbagai acara teknologi dipenuhi atribut lobster karena simbol itu identik dengan penggunaan AI otonom yang mampu menjalankan perangkat digital secara mandiri.
OpenClaw dikembangkan oleh Peter Steinberger dan memungkinkan pengguna memberi perintah agar sistem mengoperasikan aplikasi, browser, hingga perangkat rumah pintar secara otomatis melalui aplikasi pesan seperti WhatsApp.
Popularitas OpenClaw semakin melonjak setelah CEO Nvidia, Jensen Huang, menyebut teknologi ini sebagai penerus besar setelah ChatGPT karena dinilai mampu meningkatkan produktivitas kerja secara signifikan.
Perusahaan teknologi di China hingga komunitas lokal kini rutin menggelar pertemuan untuk instalasi OpenClaw, bahkan sejumlah platform dagang digital menawarkan jasa pemasangan dengan tarif mulai dari 7 hingga 100 dolar AS.
Antusiasme tersebut juga mendorong perusahaan besar China meluncurkan versi serupa seperti DuClaw, QClaw, dan ArkClaw, sementara pemerintah daerah ikut menawarkan subsidi bagi bisnis yang memanfaatkan AI ini untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi.
Meski dianggap membuka peluang efisiensi besar, sejumlah lembaga keamanan siber China memperingatkan bahwa OpenClaw berpotensi menimbulkan kebocoran data, pengambilalihan perangkat jarak jauh, hingga gangguan sistem bisnis jika akses pengguna tidak diawasi ketat.
Di tengah perlambatan ekonomi dan kekhawatiran lapangan kerja, sebagian anak muda China mulai mempelajari OpenClaw sebagai strategi bertahan agar tidak tertinggal oleh perubahan cepat dunia kerja berbasis kecerdasan buatan.













