• © Copyright 2025 Cobinis.com – All Right Reserved
Sunday, October 25, 2026
Cobisnis
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Ekonomi Bisnis
  • Nasional
  • Lifestyle
  • Entertaiment
  • Humaniora
  • Sport
  • Teknologi
  • Otomotif
  • Foto
  • Beranda
  • Ekonomi Bisnis
  • Nasional
  • Lifestyle
  • Entertaiment
  • Humaniora
  • Sport
  • Teknologi
  • Otomotif
  • Foto
No Result
View All Result
Cobisnis
No Result
View All Result
Home Humaniora

Tatreez Dijelaskan: Mengapa Perempuan Palestina Melestarikan Sulaman Tradisional

Zahra Zahwa by Zahra Zahwa
February 16, 2026
in Humaniora
0
Tatreez Dijelaskan: Mengapa Perempuan Palestina Melestarikan Sulaman Tradisional

JAKARTA, Cobisnis.com – Lahir di Ramallah pada akhir 1990-an, desainer Ayham Hassan tumbuh dengan kesadaran bahwa tekstil Palestina bukan sekadar kain atau busana. Baginya, setiap helai sulaman adalah bukti geografi, garis keturunan, dan ingatan kolektif.

Lulusan Central Saint Martins di London ini menamai koleksi akhirnya “IM-Mortal Magenta: The Color That Doesn’t Exist,” yang sarat inspirasi visual dari Gaza. Ia menjadikan warna magenta sebagai simbol tentang penghapusan dan keberlangsungan hidup, dengan tatreez sebagai bahasa visual sekaligus struktur desainnya.

Tatreez sulaman tradisional Palestina telah berusia ratusan tahun dan awalnya menjadi identitas wilayah. Warna, teknik, hingga motif tanaman dan bunga tertentu menandakan asal daerah, status sosial, serta peristiwa penting dalam hidup perempuan seperti pernikahan atau menjadi janda.

Dari Identitas Budaya Menjadi Simbol Perlawanan

Sejak 1948, setelah perang Arab-Israel yang dikenal sebagai Nakba ketika sekitar 700.000 warga Palestina terusir dari tanah mereka tatreez perlahan berubah menjadi medium politik.

Menurut Rachel Dedman, kurator seni Timur Tengah di Victoria and Albert Museum dan penulis buku Stitching the Intifada: Embroidery and Resistance in Palestine, tatreez kini dipahami sebagai bagian dari konsep “sumud” atau keteguhan Palestina.

“Praktiknya sebagai bentuk solidaritas semakin terlihat,” ujarnya. Kini, lokakarya tatreez dan komunitas menyulam bermunculan, termasuk di media sosial seperti TikTok.

Dedman telah meneliti tatreez selama lebih dari satu dekade, berawal dari undangan Palestinian Museum pada 2014. Pameran “Thread Memory: Embroidery from Palestine” ditampilkan di V&A Dundee, Skotlandia, sementara “Embroidering Palestine” dibuka di MoMu, museum mode di Antwerp, yang juga menampilkan karya Hassan berdampingan dengan thobe berusia lebih dari satu abad.

Menurut Dedman, tatreez pada abad ke-19 adalah bagian dari mode yang dinamis. Perempuan saling memperhatikan gaya satu sama lain. Ia menekankan pentingnya melihat tatreez bukan sekadar artefak statis, melainkan ekspresi fashion yang hidup dan terus berkembang.

Sulaman Yang Tak Pernah Berhenti

Samar Abdrabbou, pengelola program Palestina untuk Made in Palestine (MIP), menyebut bahwa awalnya tatreez bukanlah tindakan perlawanan. Perempuan menyulam untuk merayakan kecantikan dan feminitas mereka.

Namun setelah Nakba, banyak perempuan Palestina hanya membawa thobe yang mereka kenakan saat terusir. Pabrik kain hancur, tetapi praktik menyulam tak pernah berhenti.

Motif semangka dengan warna merah, putih, hitam, dan hijau seperti bendera Palestina muncul sebagai simbol solidaritas. Perempuan mulai menyisipkan pesan politik dalam sulaman mereka, menjadikan tubuh mereka ruang ekspresi perlawanan yang sunyi namun kuat.

Pada 2021, tatreez diakui secara global oleh UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda Kemanusiaan, sebuah langkah penting untuk menjaga kelestariannya.

Bahasa Hidup Dan Arsip Antar Generasi

Bagi Hassan, membawa tatreez antara London dan Palestina tak pernah terasa netral. Di satu sisi ia dipandang sebagai warisan budaya, di sisi lain langsung dipolitisasi karena konteks pendudukan.

“Tatreez bukan sekadar ornamen; ia adalah bahasa hidup, bentuk perlawanan, dan arsip lintas generasi,” ujarnya.

Sementara itu, pada 2024 Abdrabbou mendirikan SAMARKAND, inisiatif budaya untuk melestarikan dan mengajarkan tatreez kepada generasi muda. Ia menyadari semakin banyak anak muda Palestina yang tak lagi memahami teknik tradisional ini.

Baginya, menyulam adalah cara menghormati warisan leluhur. Ia teringat foto sehelai tatreez yang ditemukan di bawah reruntuhan di Gaza. “Hal pertama yang saya pikirkan adalah waktu dan tenaga yang dicurahkan perempuan yang membuatnya,” katanya.

Kini, lingkaran tatreez mingguan di sebuah kafe di Bethlehem mempertemukan perempuan, laki-laki, warga Palestina, dan peserta internasional. Mereka berbagi cerita, tradisi, dan pengalaman sambil menyulam bersama.

Di tengah bayang-bayang konflik dan kehancuran, tatreez menjadi simbol keindahan, kreativitas, dan daya tahan budaya Palestina sebuah sulaman yang tak pernah berhenti dirajut.

Free Download WordPress Themes
Download Premium WordPress Themes Free
Download Premium WordPress Themes Free
Download Nulled WordPress Themes
download udemy paid course for free
download karbonn firmware
Premium WordPress Themes Download
udemy course download free
Tags: BudayaPalestinacobisnis.comPalestinaSulamanTradisionalTatreez

Related Posts

Bukan Cuma Pikiran, Ini 6 Gejala Fisik Saat Kamu Cemas

Bukan Cuma Pikiran, Ini 6 Gejala Fisik Saat Kamu Cemas

by Hidayat Taufik
October 25, 2026
0

JAKARTA, Cobisnis.com - Kecemasan dapat muncul dalam berbagai situasi, mulai dari menghadapi ujian hingga menunggu kabar yang penting. Meski wajar...

Monako Ungguli Puluhan Destinasi, Jadi Negara Terbaik untuk Ditinggali pada 2026

Monako Ungguli Puluhan Destinasi, Jadi Negara Terbaik untuk Ditinggali pada 2026

by Hidayat Taufik
October 25, 2026
0

JAKARTA, Cobisnis.com - Monako dinobatkan sebagai tempat tinggal terbaik di dunia pada 2026 berdasarkan Nomad Lifestyle Index yang dirilis Nomad...

Diakui Dunia, Indonesia Jadi Negara Paling Ramah Keempat pada 2026

Diakui Dunia, Indonesia Jadi Negara Paling Ramah Keempat pada 2026

by Hidayat Taufik
October 25, 2026
0

JAKARTA, Cobisnis.com - Indonesia berhasil menempati peringkat keempat sebagai negara paling ramah di dunia pada 2026 berdasarkan Readers' Choice Awards...

Daftar 10 Negara Penghasil Emas Terbanyak pada 2026, RI Masuk?

Daftar 10 Negara Penghasil Emas Terbanyak pada 2026, RI Masuk?

by Hidayat Taufik
October 25, 2026
0

JAKARTA, Cobisnis.com - Produksi emas dunia masih didominasi sejumlah negara dengan industri pertambangan berskala besar. Berdasarkan data Mineral Commodity Summaries...

Mendagri Dorong Pemda Sisihkan Dana untuk Renovasi Rumah Warga

Mendagri Dorong Pemda Sisihkan Dana untuk Renovasi Rumah Warga

by Hidayat Taufik
October 25, 2026
0

JAKARTA, Cobisnis.com - Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian meminta pemerintah daerah mengalokasikan anggaran untuk memperbaiki rumah warga yang kondisinya tidak...

Load More
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Auto Draft

HUT ke-21 Dihadiri 11.300 Anggota, Ling Tien Kung Perkuat Ekspansi

October 25, 2026
PPN Tiket Pesawat Ditanggung Pemerintah Saat Natal 2026 dan Tahun Baru 2027

PPN Tiket Pesawat Ditanggung Pemerintah Saat Natal 2026 dan Tahun Baru 2027

October 24, 2026
Gaet wisman Australia, Kemenpar Buka Penerbangan TransNusa Rute Melbourne-Bali

Gaet wisman Australia, Kemenpar Buka Penerbangan TransNusa Rute Melbourne-Bali

October 24, 2026
Kemenpar Rancang Paket Wisata Jakarta dan Bogor Melalui Kegiatan Famtrip

Kemenpar Rancang Paket Wisata Jakarta dan Bogor Melalui Kegiatan Famtrip

October 24, 2026
Riyadh Memanas! Saudi Klaim Berhasil Cegat Rudal Balistik Houthi

Riyadh Memanas! Saudi Klaim Berhasil Cegat Rudal Balistik Houthi

October 25, 2026
Bukan Cuma Pikiran, Ini 6 Gejala Fisik Saat Kamu Cemas

Bukan Cuma Pikiran, Ini 6 Gejala Fisik Saat Kamu Cemas

October 25, 2026
Singkong Lampung Naik Kelas, Harga Tembus Rp3.000 per Kg

Singkong Lampung Naik Kelas, Harga Tembus Rp3.000 per Kg

October 25, 2026
Nataru Belum Tiba, Harga Cabai Sudah Tembus Rp102 Ribu per Kg

Nataru Belum Tiba, Harga Cabai Sudah Tembus Rp102 Ribu per Kg

October 25, 2026
">
  • Redaksi
  • Profil
  • Media Kit
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Cyber
  • Kontak

© Copyright 2025 Cobinis.com - All Right Reserved

No Result
View All Result
  • Home
  • Ekonomi & Bisnis
  • Nasional
  • Industri
  • Lifestyle
  • Humaniora
  • Kesehatan & Olahraga
  • Startup Center
  • Foto
  • Youtube

© Copyright 2025 Cobinis.com - All Right Reserved