JAKARTA, Cobisnis.com – Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu membandingkan kondisi warga Jalur Gaza dengan Korea Utara. Pernyataan itu disampaikan saat membahas sulitnya warga Gaza meninggalkan wilayah tersebut.
Sejak agresi Israel ke Palestina pada 2023, akses keluar masuk Gaza mengalami pembatasan ketat. Kondisi tersebut juga berdampak pada masuknya bahan makanan, obat obatan, kebutuhan medis, serta bantuan kemanusiaan.
Netanyahu mengatakan warga Gaza tidak memiliki kebebasan untuk meninggalkan wilayah tersebut. Ia kemudian mempertanyakan mengapa warga Gaza tidak memiliki kebebasan bergerak seperti miliaran orang lainnya.
Pernyataan tersebut disampaikan Netanyahu dalam sebuah podcast berbahasa Ibrani. Pernyataan itu kemudian dikutip Al Jazeera pada Senin, 3 Agustus 2026.
Netanyahu juga menyinggung negara negara lain yang disebut menolak menerima warga Gaza. Menurutnya, penolakan tersebut membuat warga Gaza tetap berada di wilayah yang tengah dilanda konflik.
Isu perpindahan warga Gaza sebelumnya menjadi sorotan setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengusulkan pembangunan kawasan yang disebut Riviera Timur Tengah. Rencana tersebut dikaitkan dengan pemindahan warga Gaza ke negara lain, termasuk Yordania dan Mesir.
Usulan tersebut mendapat kecaman dari berbagai pihak di komunitas internasional. Gagasan itu dinilai dapat mengarah pada pembersihan etnis dan mendukung kepentingan Israel.
Komunitas internasional juga mendorong agar penyelesaian konflik tidak dilakukan melalui pemindahan paksa warga Gaza. Perdamaian dan penghormatan terhadap kedaulatan disebut sebagai bagian penting dari penyelesaian konflik.
Sementara itu, kesepakatan gencatan senjata yang disebut dalam laporan tersebut memuat ketentuan bahwa warga Gaza tidak boleh dipaksa meninggalkan wilayahnya. Warga yang ingin pergi disebut memiliki kebebasan untuk meninggalkan Gaza dan kembali.
Kesepakatan tersebut juga menyebut adanya upaya untuk mendorong warga tetap tinggal dan membangun kembali Gaza. Ketentuan itu menjadi bagian dari perdebatan mengenai masa depan warga Gaza di tengah konflik yang berlangsung.













